Efusi Pleura, Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Efusi Pleura merupakan suatu kondisi dimana terdapat cairan berlebih di rongga pleura, yaitu membran yang memisahkan paru-paru dengan dinding dada bagian dalam.

Seharusnya, cairan yang diproduksi pleura mengandung 10 ml, yang berfungsi sebagai pelumas saat paru-paru bergerak sehingga pernapasan menjadi lancar. Kondisi seperti ini biasanya disebabkan oleh komplikasi dari penyakit lain, seperti penyakit infeksi dan kanker baik di paru-paru maupun organ lain.

Efusi pleura adalah kasus yang sangat serius, Jika tidak segera ditangani penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Menurut _Journal of Pulmonary & Respiratory Medicine_ menyebutkan sebanyak 15% pasien yang didiagnosis efusi pleura meninggal dalam waktu 30 hari.

Terdapat dua jenis penyebab terjadinya efusi pleura, yaitu efusi pleura transudatif dan efusi pleura eksudatif.

Untuk efusi pleura transudatif terjadi karena adanya kebocoran pada pembuluh darah karena tekanan yang terjadi atau rendahnya kadar protein, sehingga cairan menumpuk di pleura. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal jantung, sorosis, sindroma nefrotik, dan kanker.

Sedangkan efusi pleura eksudatif terjadi karena adanya cairan yang berasal dari peradangan pleura dan paru-paru, yang disebabkan penyakit kanker paru dan kanker payudara, emboli paru, tuberkulosis, pneumonia, cedera pada dinding dada yang menyebabkan perdarahan, dan penyakit autoimun seperti lupus. Kondisi ini bisa terjadi pada salah satu paru-paru (unilateral) atau kedua sisi paru-paru (bilateral).

Untuk gejalannya, pada penderita efusi pleura ringan, pasien biasanya tidak merasakan gejala apa pun. Namun jika efusi pleuranya sudah parah dan terasa penumpukan cairan, gejala yang timbul yaitu batuk kering, demam, kesulitan bernapas saat berbaring, nyeri dada saat menarik dan membuang napas (nyeri pleuritik), serta sesak napas.

Beberapa gejala lain yang bisa timbul yaitu kehilangan nafsu makan, cegukan yang terus menerus, atau pembengkakan pada tungkai.

Ada beberapa faktor yang memicu terjadinya resiko ini, seperti orang yang aktif merokok, minum minuman beralkohol, pernah menderita tekanan darah tinggi, pernah menjalani prosedur dialisis (cuci darah) peritoneal pada ginjal, dan menjalani perawatan atau pengobatan kanker yang mempengaruhi tubuh menahan cairan.

Jika anda merasakan gejala tersebut, alangkah baiknya untuk memeriksakan diri ke dokter. Umumnya, efusi pleura dapat diketahui dari pemeriksaan di dokter. Selain melakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop atau mengetuk dada pasien, terdapat serangakaian tes yang bisa dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak penumpukan cairan pada paru-paru. Seperti Tes X-ray (untuk melihat apakah ada cairan di pleura), Tes ultrasound/USG ( untuk melihat apakah cairan di pleura mengalir atau hanya berkumpul di satu titik), dan CT scan (untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai letak cairan).

Jika penyebab efusi pleura sudah diketahui oleh penyakit apa, maka penanganannya diarahkan pada penyebab utamanya. Misalnya pada pasien tuberkulosis maka diberikan OAT (obat anti tuberkulosis), pasien pneumonia diberika antibiotik, dan untuk penderita gagal jantung diberikan diuretik. Ada juga dengan cara Thorakotomi dengan memasukkan selang ke rongga pleura untuk mengeluarkan cairan yang berlebih.

Penumpukan cairan ini kadangkala sulit untuk dicegah, karena efusi pleura ini diakibatkan efek dari gangguan kesehatan lainnya. Jadi jagalah kesehatan sejak dini dengan berolahraga secara teratur dan mengonsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayur, berhenti merokok, dan hindari minuman beralkohol. (Dwi/ diolah dari berbagai sumber)

Related posts