Prabowo di Mata Mantan PM Singapura: Suka Bertindak Tanpa Pikir Panjang

Mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew, pernah menilai sosok Prabowo dalam buku memoarnya yang berjudul 'From Third World to First: The Singapore Story 1965-2000'/Foto : Dok. Istimewa Mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew, pernah menilai sosok Prabowo dalam buku memoarnya yang berjudul 'From Third World to First: The Singapore Story 1965-2000'/Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Mantan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Kuan Yew, pernah menuliskan penilaiannya terhadap Prabowo Subianto dalam buku memoar ‘From Third World to First: The Singapore Story 1965–2000’. Dalam catatannya, Lee menggambarkan Prabowo sebagai sosok yang cerdas, cepat berpikir, dan memiliki ambisi besar, tetapi juga dinilai cenderung bertindak terburu-buru.

Penilaian tersebut muncul setelah Lee Kuan Yew bertemu dan makan siang bersama Prabowo di Jakarta pada pertengahan 1990-an. Pertemuan itu menjadi salah satu bagian dari catatan Lee mengenai tokoh-tokoh politik dan militer Indonesia menjelang berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto.

Dalam memoarnya, Lee menilai Prabowo memiliki kemampuan berpikir cepat. Namun, ia juga mencatat adanya sisi impulsif dalam karakter Prabowo. Lee menggunakan frasa “impetuous and rash” untuk menggambarkan kecenderungan Prabowo yang dinilainya mudah bertindak secara cepat atau tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan seluruh konsekuensi secara matang.

Penilaian tersebut merupakan pandangan pribadi Lee Kuan Yew berdasarkan pengamatan dan interaksinya dengan Prabowo pada masa itu, bukan kesimpulan resmi maupun penilaian objektif terhadap seluruh perjalanan politik Prabowo.

Selain menyoroti sifat impulsif, Lee juga menilai gaya bicara Prabowo cepat dan terbuka. Dalam catatannya, Lee menggambarkan Prabowo sebagai sosok yang “quick but inappropriate in his outspokenness”, atau cepat dalam berpikir dan berbicara, tetapi keterusterangannya terkadang disampaikan pada situasi yang kurang tepat.

Menurut catatan Lee, gaya bicara tersebut membuat Prabowo kerap mengutarakan pandangan secara blak-blakan, termasuk dalam pembicaraan yang menyangkut persoalan politik sensitif. Lee menilai keterbukaan tersebut berpotensi melampaui batas-batas yang lazim dijaga dalam komunikasi diplomatik.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Lee adalah keberanian Prabowo menyampaikan pandangan sensitif mengenai masa depan Presiden Soeharto kepada seorang jenderal asing. Bagi Lee, sikap tersebut menunjukkan keberanian dan keterusterangan, tetapi sekaligus mencerminkan kecenderungan mengambil risiko dalam situasi politik yang rumit.

Meski demikian, penilaian Lee tidak sepenuhnya bernada negatif. Dalam bagian yang sama, ia juga mengakui kecerdasan, kecepatan berpikir, dan ambisi besar yang dimiliki Prabowo. Dengan demikian, gambaran Lee terhadap Prabowo memperlihatkan perpaduan antara kemampuan intelektual, keberanian, ambisi, serta karakter yang dinilai impulsif.

Buku ‘From Third World to First’ sendiri merupakan memoar Lee Kuan Yew mengenai perjalanan Singapura sejak 1965 hingga 2000, termasuk pandangannya terhadap perkembangan politik dan hubungan internasional di kawasan Asia Tenggara.

Catatan tersebut kembali menarik perhatian karena memperlihatkan bagaimana Lee Kuan Yew memandang Prabowo pada masa mudanya, jauh sebelum Prabowo menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.