Filosofi Air Dan Tanah 34 Provinsi Untuk Kendi Nusantara Titik 0 IKN

Jakarta-GPriority.co.id, Presiden Jokowi Bersama 34 Gubernur telah menyelesaikan prosesi penyatuan air dan tanah dari 34 provinsi Indonesia di Titik Nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur.

Presiden mengatakan bahwa “tanah dan air yang dibawa oleh 34 Gubenur telah kita satukan ditempat yang akan menjadi lokasi ibu kota Nusantara. Ini merupakan bentuk dari kebhinekaan kita dan persatuan yang kuat diantara kita dalam rangka membangun ibu kota Nusantara ini”.

Inilah filosofi-filosofi air dan tanah yang dibawa 34 Gubernur dari masing-masing provinsi dan disatukan di kendi Nusantara:


1. DKI Jakarta, Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta membawa tanah yang diambil dari Kampung Akuarium Jakarta Utara. Tanah tersebut dicangkul dan dikumpulkan langsung oleh beberapa warga di kampung yang terletak di pesisir utara Jakarta itu, kemudian ditampung di besek bambu. Tanah tersebut dicangkul dan dikumpulkan langsung oleh beberapa warga di kampung yang terletak di pesisir utara Jakarta itu, kemudian ditampung di besek bambu.

2. Jawa Tengah, Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah membawa air dan tanah yang diambil dari sejumlah gunung yang diyakini menjadi pusar bumi atau pusatnya dunia dan telah didiskusikan kepada para sesepuh Jawa.

3. Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa membawakan air dan tanah peninggalan Kerajaan Majapahit Ia pun melakukan prosesi pengambilan air dan tanah dengan upacara ‘Mendhet Tirto lan Siti’ di Kawasan Sumur Upas Candi Kedaton, Trowulan, Mojokerto, Jatim,

4. Jawa Barat, Ridwan Kamil Gubernur Provinsi Jawa Barat membawa tanah dan air dari 27 kabupaten dan Kota di wilayah Jawa Barat.

5. Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace Wakil Gubernur Bali Dalam kesempatan itu, ia membawa air dan tanah yang diambil dari Pura Pusering Jagat, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar

6. Banten, Andika Hazrumy Wakil Gubernur Banten membawa tanah dari Baduy di Kabupaten Lebak dan Keraton Surosowan di Kota Serang

7. Lampung, Arinal Djunai Gubernur Lampung membawa air dan tanah diambil dari tiga kabupaten di Lampung. Tanah yang dibawanya diambil dari dua kabupaten, yakni Tanggamus dan Pesisir Barat.

8. Jambi, H Al Haris Gubernur Jambi membawa air dari Kolam “Telago Rajo” di Candi Muara Jambi dan “Tanah Pilih Jambi” dari lokasi pusat Kerajaan Melayu Jambi Istana Kesultanan Melayu Jambi yang merupakan cikal bakal berdirinya Jambi. Sedangkan air dari Telago Rajo di Candi Muara Jambi, dulunya lokasi itu tempat para biksu dari Asia Tenggara menimba ilmu di Jambi.

9. Sumatera Utara, Edy Rahmayadi Gubernur Sumatera Utara membawa dua kilogram tanah dan satu liter air dari Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. tanah dan air itu berasal pemandian Putri Hijau yang terletak di Namorambe, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang

10. Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Gubernur Sulsel membawa tanah dan air yang penuh makna ke IKN. Dua kilo tanah merah diambil di Kabupaten Bone, sementara satu liter air diambil dari kabupaten Gowa. Tanah ini jadi simbol menyatunya tiga kerajaan besar di Sulsel kala itu.

11. Sumatera Barat, Mahyeldi Gubernur Sumbar Tanah dan air yang dibawa oleh gubernur berasal dari daerah yang berbeda di Sumatera Barat. Tanah dari Kabupaten Pasaman Barat, dan air dari Kabupaten Solok.

12. Aceh, Nova Iriansyah Gubernur Aceh membawa tanah dari makam Sultan Iskandar Muda dan air dari Masjid Raya Baiturrahman

13. Maluku, Murad Ismail Gubernur Maluku membawa tanah dan air yang diambil dari Desa Hila-Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

14. Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang Gubernur Kalimantan Utara membawa air sungai Kayan dan air dari dataran tinggi Krayan. Kayan adalah sungai terbesar di Kaltara. Yang bermuara di dekat Tarakan. Krayan adalah kecamatan di perbatasan dengan Serawak.

15. Sulawesi Utara, Olly Dondokambey Gubernur Sultra membawa air yang diambil dari sumber mata air Malimbukan, Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara.

16. Sulawesi Tenggara, Ali Mazi Gubernur Sultra membawa tanah dan air dari bumi anoa

17. Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura Gubernur Sulawesi Tengah membawa tanah dan air dari bumi tadulako

18. Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar Gubernur Sulbar membawa tanah yang dikumpulkan dari 5 kabupaten. Sedangkan air diambil dari sungai yang hulunya di Gunung Gandang Dewata dan Gunung Mambuliling di Kabupaten Mamasa yang bermuara di 5 kabupaten.

19. Papua, Gubernur Papua yang diwakili oleh Asisten Bidang Umum Setda Provinsi Papua Y. Derek Hegemur, SH MH Didampingi Plt.Kepala Biro Umum Dan Protokol Provinsi Papua Elpius Hugi membawa tanah dari bumi Cendrawasih, yang merupakan simbol dari 29 Kabupaten / Kota

20. Papua Barat, Dominggus Mandacan Gubernur Papua Barat membawa air dan tanah yang berasal dari tanah Papua Barat

21. NTB, Gubernur NTB Zulkiefli mansyah membawa tanah dari Tambora dan air dari Narmada. Tambora di Sumbawa. Narmada di puncak gunung Rinjani, Lombok.

22. NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat Gubernur bersama Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi hadir menyerahkan tanah dan air yang berasal dari tujuh kepala daerah mewakili tujuh pulau di NTT

23. Kepri, H Ansar Ahmad Gubernur Kepri membawa tanah yang diambil dari Daik, Kabupaten Lingga. Selain itu, Ansar juga membawa 1 liter air dari Pulau Penyengat, Tanjungpinang.

24. Riau, Syamsuar Gubernur Riau membawa tanah dari masjid-masjid bersejarah di Riau serta air dari beberapa sungai yang terkenal di Riau

25. Kalimantan selatan, Sahbirin Noor Gubernur Kalimantan Selatan membawa tanah dan air dari Martapura, Banjar

26. Kalimantan Barat, Sutarmidji Gubernur Kalbar membawa air yang diambil dari titik pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak

27. Kalimantan Tengah, Edy Pratowo Wakil Gubernur Kalimantan Tengah unsur tanah dan air diambil dari perwakilan seluruh penjuru wilayah, diantaranya diambil dari tempat bersejarah Obyek Wisata Bukit Batu Kasongan, Kabupaten Katingan. Obyek Wisata ini juga dikenal dengan tempat Pertapaan Pahlawan Nasional Tjilik Riwut, yang merupakan Gubernur ke 2 Kalteng.

28. Bengkulu, Rohidin Mersyah Gubernur Bengkulu, membawa air dari dua lokasi: dari sumur rumah Ibu Fatmawati Soekarno dan dari sebuah danau bernama “Danau Dendam Tak Sudah”. Sedang tanahnya diambil dari halaman Balai Raya rumah dinas gubernur. Ini bukan sembarang rumah dinas. Inilah rumah dinas yang dibangun di zaman penjajahan Inggris. Sir Thomas Raffles pernah tinggal di Balai Raya.

29. Sumatera Selatan, Herman Deru Gubernur Sumsel membawa tanah asli dari Bumi Sriwijaya dan air berasal dari 9 sungai di Sumsel atau yang terkenal dengan Batanghari Sembilan: Sungai Kelingi, Sungai Beliti, Sungai Lakitan, Sungai Rawas, Sungai Rupit, sungai Batang Leko, Sungai Ogan, Sungai Komering dan Sungai Lematang yang menyatu di Sungai Musi Kota Palembang.

30. Gorontalo, H. Idris Rahim Wakil Gubernur Gorontalo menyerahkan tanah dan air dari diambil dari makam Ju Panggola di Kota Gorontalo. Masyarakat Gorontalo mengenal Ju Panggola sebagai Raja Ilato, yaitu seorang tokoh atau wali yang menyebarkan agama Islam. Ju Panggola mendapat gelar adat Gorontalo “Ta Lo’o Baya Lipu”, artinya orang yang berjasa kepada negeri. Sedangkan air berasal dari mata air panas Lombongo, Kabupaten Bone Bolango. Mata air panas ini tercipta karena adanya aktivitas geothermal di sekitar kawasan Lombongo.

31. Babel, Abdul Fatah di wakilkan Wakil Gubernur membawa tanah dari Bukit Menumbing, Bangka Barat dan air dari Bukit Mangkol, Bangka Tengah

32. DIY, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X membawa tanah dan air yang dibawa oleh Sultan berasal dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

33. Maluku Tengah, Abdul Gani Kasuba Gubernur Malut membawa air dan tanah dari empat kesultanan di Maluku Utara atau yang dikenal kerajaan Moloku Kie Raha, yakni Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan.

34. Kalimantan Timur, Isran Noor Gubernur Kaltim menyerahkan Air dan tanah yang diambil dari dua daerah, yakni dari Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Paser

(noz.fot.dok.kantorstaffpresidenri)