Gen Z Jadi Generasi Paling Toleran Beragama Sepanjang 2025

Generasi Z paling tinggi tingkat toleransi beragama sepanjang 2025/Foto iStock Generasi Z paling tinggi tingkat toleransi beragama sepanjang 2025/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Generasi Z (Gen Z) dinyatakan sebagai kelompok dengan tingkat toleransi beragama tertinggi dibandingkan generasi Milenial dan Baby Boomers, selama tahun 2025. Selain itu, Gen Z juga menjadi kelompok tertinggi dalam kemampuan membaca Al-Quran dibandingkan generasi lainnya.

Temuan tersebut berdasarkan Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama bekerja sama dengan Alvara Strategic Research.

Peneliti Alvara Strategic Research, Lilik Purwandi, menjelaskan rincian hasil survei. Pada aspek literasi Al-Qur’an, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil di kalangan Gen Z mencatat indeks 56,29, lebih tinggi dibandingkan Milenial (54,06), Generasi X (53,97), dan Baby Boomers (50,95).

Selain itu, Gen Z juga mencatat skor tertinggi pada indikator toleransi beragama, khususnya dalam sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan aliran atau organisasi keagamaan lain. Indeks toleransi Gen Z mencapai 80,03, melampaui Milenial (78,77), Generasi X (78,97), dan Baby Boomers (78,81).

Secara keseluruhan, indeks pengamalan toleransi Gen Z berada pada angka 79,65, hanya terpaut tipis dari Generasi X (79,67), serta lebih tinggi dibandingkan Milenial (79,07) dan Baby Boomers (78,63). Indikator toleransi mencakup penerimaan terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, sikap tidak mencela, tidak melakukan persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian.

“Data ini menunjukkan Gen Z memiliki kedewasaan sikap yang luar biasa dalam menghargai perbedaan. Mereka adalah generasi yang paling menolak praktik persekusi atau pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain,” ujar Lilik, dikutip dari laman Kemenhub, Senin (5/1).

Survei ini juga mencatat potensi positif kehidupan beragama di wilayah perkotaan yang didominasi populasi muda. Meski indeks dimensi ibadah masyarakat urban (78,38) sedikit lebih rendah dibandingkan perdesaan (79,37), pemahaman keagamaan yang kuat dinilai menjadi modal penting bagi pengembangan spiritual ke depan.

“Gen Z dan Milenial adalah pilar masa depan. Walaupun terdapat tantangan dalam pengamalan ibadah harian, modal intelektual melalui pemahaman Al-Qur’an dan sikap toleransi yang matang merupakan aset besar bagi kohesi sosial,” ucap Lilik.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menilai hasil survei tersebut layak dijadikan rujukan dalam perumusan kebijakan pemerintah.

“Secara resmi, rilis survei akan diumumkan pada Januari 2026. Terdapat banyak temuan survey di bidang kehidupan beragama. Hasilnya cukup menggembirakan dan memberikan optimisme. Laporan ini idealnya menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan untuk merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tanah air,” ujar Arsad.

Ia menekankan pentingnya menjaga capaian positif generasi muda, terutama dalam aspek toleransi dan literasi keagamaan.

“Penguatan aspek yang sudah baik, seperti toleransi dan literasi kitab suci pada generasi muda, harus terus dikawal agar menjadi karakter permanen bangsa,” tegas Arsad.