Jakarta, GPriority.co.id – Gibran Rakabuming Raka, cawapres nomor urut 2, membahas soal kerjasama pentahelix pada debat cawapres putaran keempat kemarin, Minggu (21/1).
Debat cawapres kemarin bertema ‘Pembangunan Berkelanjutan, Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup, Energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat dan Desa’.
Kerjasama pentahelix, menurut Gibran harus terus didorong agar potensi desa dapat berkembang. Selain itu, menurutnya kerja sama pentahhelix wajib untuk didorong agar agenda hilirisasi pemerataan pembangunan transisi energi menuju ekonomi hijau, ekonomi kreatif, UMKM bisa terlaksana.
Kerjasama pentahelix merupakan pendekatan kerja sama yang melibatkan lima unsur yaitu pemerintah, akademisi, bisnis, dan komunitas.
Kerjasama pentahelix pertama kali digagas oleh Menteri Pariwisata periode 2014-2019, Arief Yahya. Konsep ini dituangkan ke dalam Peraturan Menteri (Permen) Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.
Pada intinya, model pentahelix bertujuan meningkatkan industri di perdesaan, terutama sektor pariwisata. Model kerja sama yang melibatkan lima unsur ini biasanya diterapkan dalam pengembangan potensi pariwisata.
Tujuan penerapan kerjasama pentahelix ini adalah untuk menciptakan orkestrasi dan memastikan kualitas aktivitas, fasilitas, pelayanan, serta menciptakan pengalaman dan nilai manfaat kepariwisataan agar memberikan keuntungan dan manfaat pada masyarakat dan lingkungan.
Jika dijabarkan, dalam kerjasama pentahelix, pemerintah berperan sebagai regulator dan pengendali (penerbit regulasi dan penegak hukum). Sementara akademis berperan sebagai pembuat konsep yang melakukan penelitian bersumber dari ilmu pengetahuan.
Pelaku bisnis berperan sebagai fasilitator, yang menciptakan nilai tambah dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Komunitas berfungsi sebagai perantara atau penghubung.
Terakhir, media berperan sebagai wadah untuk promosi dan publikasi, serta membangun citra dan menyebarkan keberhasilan dari suatu kebijakan.
Foto : YouTube / CNN Indonesia
