Guru Wajib Tahu Kurikulum Baru asa Ambigu

Belum juga tuntas seleksi P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) guru honor, kini muncul wacana kurikulum baru yang akan diterapkan mulai tahun 2022.

Ada asa (harapan) dalam kurikulum baru yang boleh jadi malah menuai ambigu. Ambigu dalam pranala KBBI.Web.id bermakna lebih dari satu (sehingga kadang-kadang menimbulkan keraguan, kekaburan, ketidakjelasan, dan sebagainya), bermakna ganda, taksa.

Dikatakan Kurikulum baru yang ditawarkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini sifatnya tidak memaksa lantaran dalam proses ke depan sekolah tetap diberikan keleluasaan dalam memilih kurikulum yang akan digunakan.

“Setiap sekolah yang ingin atau punya kemauan untuk mencoba kurikulum baru ataupun masih berdiri dengan kurikulum yang sekarang, itu adalah opsinya sekolah,” ujar Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim.

Kata Nadiem seperti yang disiarkan dalam Channel Youtube, sekolah-sekolah tidak perlu khawatir soal adanya paksaan untuk melakukan perubahan kurikulum di tempat mereka. Dirinya memastikan, setiap sekolah mempunyai kemerdekaan dalam menentukan keputusan mereka sendiri, terlebih saat ini merupakan masa pemulihan dari terjadinya learning loss.

“Kita akan melakukan secara bertahap, secara tenang, dan dengan kemerdekaan full sekolah tanpa paksaan,” ungkap Nadiem.

Lanjut Nadiem, jika sekolah dipaksa untuk mengikuti kebijakan apapun, maka kemungkinan kebijakan itu berjalan baik dan sukses sangat rendah. “Jika ingin kebijakan itu berhasil, maka harus ada kemauan dari diri para guru maupun kepala sekolah di dalam sekolah itu sendiri,” ungkapnya.

Di lain sisi wacana pemberlakuan kurikulum baru ini menuai kebingungan. Totok Amin Soefianto, pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina misalnya meminta agar kurikulum itu dijelaskan kembali.

“Kurikulum fleksibel itu harus dijelaskan lagi. Kalau dibiarkan semua membuat interpretasi, maka akibatnya bisa membingungkan atau bisa semau gue di kalangan pendidik. Orangtua juga bisa punya interpretasi sendiri,” kata dia dikutip Medcom.

Totok mengaku tak mempermasalahkan apakah Menteri Nadiem memang ingin menghadirkan kurikulum yang benar-benar baru atau tidak. Sebab, pergantian kurikulum memang harus dilakukan jika memang kurikulum saat ini sudah tidak menjawab tantangan masa depan.

“Kurikulum itu perlu penyesuaian dengan zamannya. Benar, jangan mudah ganti kurikulum, tetapi juga jangan tidak ganti kurikulum sama sekali. Ganti kurikulum karena tuntutan situasi, bukan karena menterinya. Itu yang juga harus disadarkan ke masyarakat,” ungkap Totok.

Totok juga memberikan pandangan apakah kurikulum 2013 yang saat ini digunakan sudah layak diganti atau belum. Menurut dia menjadi pertanyaann yang sangat sulit mengingat kurikulum 2013 saja belum dikuasai oleh pendidik.

“Belajar dari pergantian kurikulum sebelumnya, ada baiknya Kemdikbud melakukan review terhadap kurikulum sebelumnya. Harus ada analisa plus minusnya dulu, sehingga kurikulum baru nanti benar-benar bermanfaat untuk meningkatkan mutu pendidikan kita,” imbuh Totok.

Sebenarnya, bagaimana sih isi kurikulum 2022 ini? Ada tiga elemen penting di dalamnya.

Pertama, kurikulum 2022 ini berbasis kompetensi. Yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap dirangkaikan sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh.

Kedua, pembelajaran yang fleksibel. Penyusunan capaian pembelajaran dalam fase-fase (2-3 tahun perfase), sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar sesuai dengan tingkat pencapaian, kebutuhan, kecepatan, dan gaya belajarnya.

Ketiga, karakter Pancasila . Yakni adanya sinergi antara kegiatan pembelajaran rutin sehari-hari di kelas dengan kegiatan nonrutin (projek) interdisipliner yang berorientasi pada pembentukan dan penguatan karakter berdasarkan kerangka Profil Pelajar Pancasila.

Pembaharuan lain yang akan muncul pada kurikulum ini, salah satunya juga akan kembali ada mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komputer). Jam pelajaran yang ditetapkan pertahun pun tidak lagi perminggu seperti pada KTSP-2013, siswa mengikuti pelajaran IPA IPS secara terpisah sejak di tingkat SMP.#

Related posts