Gpriority mendapat kesempatan istimewa untuk mewawancarai salah seorang figur perempuan mumpuni, reputasi dan dedikasinya untuk bangsa ini tidak diragukan lagi. Ia merupakan sosok inspiratif dan aspiratif, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia sejak Tahun 2014.
Adalah Hj.Fahira Fahmi Idris, S.E, M.H atau Fahri Idris yang tengah menjalankan mandat dari warga DKI Jakarta sebagai senator DPD RI 2019-2024. Ia kelahiran Jakarta, 20 Maret 1968, merupakan putri sulung dari Fahmi Idris (Alm.) yang merupakan Menteri Tenaga Kerja Indonesia era Presiden Habibie dan Menteri Perindustrian Indonesia pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Fahira juga merupakan cucu dari KH. Hasan Basri, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Hari-harinya juga disibukkan memimpin berbagai organisasi kemasyarakatan. Ia merupakan Ketua Umum yang juga pendiri Ormas Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Ormas Bang Japar). “Kehadiran Bang Japar untuk menyebar sebanyak mungkin maslahat kepada masyarakat baik dari sisi ekonomi, sosial dan budaya serta pendampingan hukum. Kini bahkan Bang Japar tidak hanya berdiri di Jakarta, tetapi juga di daerah lain salah satunya Palembang, ujar Fahira kepada Gpriority, Selasa (4/4).
Selain itu, Fahira dipercaya menjadi Ketua Umum DAIYAT Persaudaraan Muslimin Indonesia atau PARMUSI. DAIYAT PARMUSI adalah organisasi sayap PARMUSI khusus untuk pemberdayaan perempuan, anak dan keluarga. DAIYAT PARMUSI memiliki visi, semangat dan energi yang sama yaitu mencetak muslimah-muslimah tangguh dan berilmu di seluruh pelosok negeri. Melahirkan muslimah-muslimah penggerak yang mempunyai karakter leadership dan berkomitmen tinggi memajukan umat melalui jalan kebaikan dan jalan dakwah.
Fahira juga aktif sebagai Ketua Gerakan Nasional Anti Miras, aktif mengkampanyekan bahaya miras bagi generasi muda dan memperjuangkan RUU Miras disahkan menjadi Undang-Undang. Dan masih banyak lagi aktivitas sosok Fahira Idris baik di bidang sosial, keagamaan dan kesehatan.
Berikut petikan wawancara Gpriority (GP) dengan Hj. Fahira Idris (Fahira):
GP : Memaknai hari Kartini seperti apa, baik untuk wanita pada umumnya maupun perjalanan karier Anda?
Fahira :Kalau dari pandangan saya, sumbangan terbesar Kartini bagi bangsa ini adalah pertama, beliau mengajarkan kita bahwa pendidikan adalah satu-satunya kunci bagi siapa saja terutama perempuan untuk meraih kemajuan.
Kedua, Kartini memberitahu kita bahwa menjadi perempuan juga harus siap menjadi agen perubahan baik di keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas. Kartini menunjukkan bahwa perempuan, apapun potensinya dan apapun kemampuan yang dimilikinya, harus bisa memberi manfaat bagi orang lain.
GP: Apa inspirasi Anda jelang hari Kartini 21 April di mana beberapa tahun ke belakang Anda pernah dinobatkan sebagai The Most Favourite Inspiring Woman oleh salah satu media?
Fahira: Pertama, sebagai perempuan, yang wajib kita pahami adalah isu-isu publik. Karena hampir semua isu publik terkait erat dengan perempuan. Misalnya, kalau bicara pendidikan, kesehatan atau harga pangan atau sembako tidak akan bisa dilepaskan dari peran seorang perempuan. Kebijakan pendidikan, kesehatan atau harga-harga kebutuhan pokok yang tidak berpihak, sudah pasti akan merugikan kita kaum perempuan.
Saya beri contoh sederhana -ini hanya contoh mudah-mudahan tidak benar-benar terjadi- misalnya saja jika kebijakan pembangunan infrastruktur jalan di sebuah daerah yang tidak berorientasi kepada kepentingan publik sehingga membuat warga kesulitan saat harus ke puskesmas atau rumah sakit, maka kerugian terbesar akan dialami oleh perempuan. Apa kerugian itu? Angka kematian ibu dan bayi akan menjadi tinggi karena kesulitan ke puskesmas atau ke rumah sakit saat bersalin. Jadi memang, kita harus berperan di ruang publik karena dengan begitu kita bisa memperjuangkan hak-hak kita.
Contoh lain misalnya, ketiadaan aturan peredaran dan konsumsi miras setingkat undang-undang di Indonesia, berdampak besar kepada perempuan. Walau berdasarkan berbagai survei tingkat konsumsi miras didominasi laki-laki, tetapi korban terbesar dari tindak kejahatan akibat miras adalah perempuan. Terutama kasus perkosaan di mana pelaku dalam pengaruh alkohol.
Berbagai kasus ditemukan fakta, bahwa banyak remaja putri yang dijebak dengan miras sebelum akhirnya dilecehkan secara fisik dan seksual. Belum lagi kita bicara KDRT di mana banyak kasus ditemukan suami menjadi pelaku KDRT di bawah pengaruh alkohol.
Isu-isu publik seperti ini, jika kita tidak ikut ambil bagian menyelesaikannya akan jadi batu halangan menegakkan kesetaraan.
Kedua, kita perempuan, harus mampu berdaya secara ekonomi (menjadi pelaku kegiatan-kegiatan produktif) dan sosial (mampu memutuskan yang terbaik bagi diri, lingkungan, dan bangsa). Hanya dengan keberdayaan, kita perempuan Indonesia, akan menjadi agent of change, baik bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan, dan masyarakat disekitarnya atau dengan kata lain menjadi PEREMPUAN INSPIRATIF.#Tim GP
(Wawancara Gpriority dengan Senator Fahira Idris selengkapnya ditayangkan di media Gpriority versi online)
