Ingin Kuasai Tepi Barat, Netanyahu Dikutuk 8 Negara Muslim

PM Israel Benjamin Netanyahu bersama Presiden AS Donald Trump/Foto : Dok AFP PM Israel Benjamin Netanyahu bersama Presiden AS Donald Trump/Foto : Dok AFP

Israel, GPriority.co.id – Arab Saudi dan tujuh negara Muslim lainnya pada mengecam langkah-langkah baru yang diumumkan oleh pemerintah Israel untuk memperluas kehadirannya dan langkah-langkah tambahan untuk memperketat kendali atas Tepi Barat, termasuk mengizinkan lebih banyak permukiman di wilayah Palestina untuk diduduki.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengumumkan ketentuan baru tersebut pada hari Minggu (8/2) lalu. Ketentuan ini termasuk mengizinkan warga Israel Yahudi untuk membeli tanah di Tepi Barat, sebagaimana tercantum dalam pernyataan bersama dari para menteri.

“Menteri luar negeri Arab Saudi, Yordania, UEA, Qatar, Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Turki mengutuk sekeras-kerasnya keputusan dan tindakan ilegal Israel yang bertujuan untuk memaksakan kedaulatan Israel yang melanggar hukum”, demikian pernyataan Arab Saudi pada Senin (9/2) kemarin.

Pernyataan kementerian luar negeri menambahkan bahwa tindakan tersebut merupakan upaya untuk memperkuat aktivitas pemukiman, dan memberlakukan realitas hukum dan administrasi baru di Tepi Barat yang diduduki, sehingga mempercepat upaya aneksasi ilegal dan pengusiran rakyat Palestina.

Sementara itu, Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menggambarkan keputusan itu sebagai aneksasi de facto Tepi Barat dan mendesak presiden AS dan Dewan Keamanan PBB untuk campur tangan.

Langkah ini juga akan memungkinkan otoritas Israel untuk mengambil alih pengelolaan beberapa situs keagamaan dan meningkatkan cakupan campur tangan dan penegakan hukum Israel di wilayah yang dikelola oleh Otoritas Palestina.

Menteri Keuangan Smotrich mengatakan langkah-langkah ini bertujuan untuk memperdalam akar kita di semua wilayah Tanah Israel dan mengubur gagasan negara Palestina.

Waktu pengambilan keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan, karena dilakukan beberapa hari sebelum kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat, di mana ia dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump.

Trump sebelumnya menyatakan ketidaksetujuannya terhadap aneksasi Tepi Barat oleh Israel dan mendukung pendirian AS mengenai masalah tersebut.