Iran Kenakan Biaya untuk Kapal Tanker Melintas di Selat Hormuz

Ilustrasi kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz/Foto : Dok. AFP Ilustrasi kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz/Foto : Dok. AFP

Iran, GPriority.co.id – Di tengah krisis energi yang semakin parah akibat penutupan Selat Hormuz, Iran mulai kenakan biaya transit untuk kapal tanker melintas di Selat Hormuz.

Dilansir dari laporan Bloomberg pada Rabu (25/3), biaya transit yang dikenakan Iran ialah sebesar USD2 juta per perjalanan pada kapal-kapal komersial tertentu yang melewati jalur Selat Hormuz.

Selain itu, militer Iran juga mulai memungut biaya tersebut secara ad hoc dan menetapkan pungutan tol informal di jalur perairan terpenting di dunia.

Beberapa kapal telah melakukan pembayaran, meskipun mekanisme operasinya masih belum jelas, termasuk detail seperti mata uang yang digunakan.

Kebijakan ini menunjukkan cengkeraman kuat Iran atas jalur perairan terpenting di dunia, setelah mengumumkan penutupan efektif selat tersebut menyusul kampanye pengeboman gabungan AS-Israel terhadap Republik Islam, yang dimulai pada 28 Februari.

Setelah penutupan Selat Hormuz, harga energi melonjak di atas USD100, menyumbang hampir seperlima dari pengiriman minyak mentah dan gas global. Pada hari Senin lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan dalam sebuah unggah media sosial terkait penundaan selama lima hari untuk semua serangan militer yang direncanakan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.

Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan peluang bagi upaya diplomatik yang sedang berlangsung dan bertujuan untuk mencapai resolusi lengkap dan total atas permusuhan di kawasan tersebut.

Sementara itu, Iran secara resmi membantah pernyataan Trump bahwa kedua negara sedang terlibat dalam pembicaraan yang sangat baik dan produktif untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Presiden AS berada di bawah tekanan domestik dan internasional yang hebat di tengah kenaikan harga energi yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Para analis berpendapat bahwa tekanan ini mungkin telah mendorong Donald Trump untuk tiba-tiba mengumumkan jeda dalam permusuhan, bersamaan dengan langkah-langkah seperti pengerahan Marinir tambahan ke Asia Barat.

Pesan yang membingungkan dari Trump juga menambah volatilitas, karena ia terus tidak memperjelas pendirian AS mengenai Selat Hormuz. Sebelumnya, ia telah menyerukan dukungan angkatan laut multilateral dari sekutu Eropa untuk memaksa pembukaan jalur air vital tersebut.

Setelah diabaikan oleh para mitranya, ia mengatakan Washington tidak khawatir, karena negara itu tidak bergantung pada selat tersebut untuk kebutuhan energinya. Ia kembali mengubah pendiriannya dengan mengeluarkan pernyataan dan tiba-tiba mengumumkan jeda selama lima hari.