Negara ASEAN Mulai Terdampak Akibat Perang Iran, Bagaimana dengan Indonesia?

Negara ASEAN mulai terdampak akibat perang Iran/Foto : Dok. AFP Negara ASEAN mulai terdampak akibat perang Iran/Foto : Dok. AFP

Asia Tenggara, GPriority.co.id – Kenaikan harga minyak dan gas akibat perang Iran mulai mengguncang perekonomian negara-negara ASEAN (Asia Tenggara), salah satunya Kamboja yang mengalami krisis bensin.

Selain itu, Filipina mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional sebagai tanda bagaimana krisis energi global yang disebabkan oleh perang Iran berdampak pada ASEAN, sebagaimana dilansir dari laporan AFP.

Perlu diketahui, sebagian besar negara anggota ASEAN adalah importir bersih minyak dan gas, dan konflik Iran-Israel-AS yang sedang berlangsung, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz secara efektif, telah memicu lonjakan tajam harga minyak global, biaya LNG, dan pasar energi regional.

Bahkan beberapa pemerintah Asia Tenggara telah menerapkan langkah-langkah penghematan bahan bakar, termasuk kebijakan bekerja dari rumah, minggu kerja empat hari, dan pembatasan penggunaan pendingin ruangan dan kendaraan pribadi.

Subsidi bahan bakar, pembatasan ekspor, diversifikasi bahan bakar dan pemasok seperti Rusia, dan peningkatan penggunaan biofuel yang diproduksi di dalam negeri juga sedang dipertimbangkan.

Filipina darurat energi nasional

Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Filipina termasuk yang paling terpukul dalam krisis energi Asia Tenggara, dengan hampir 98 persen impor minyak mentahnya berasal dari wilayah Teluk. Volume impor LNG yang signifikan juga berasal dari koridor yang sama, sehingga sangat rentan terhadap gangguan di Selat Hormuz.

Pemerintah mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional pada hari Selasa (24/3), dengan alasan “bahaya yang mengancam” pasokan energi. Cadangan bahan bakar telah turun menjadi sekitar 45 hari, sementara harga gas domestik telah berlipat ganda sejak krisis dimulai.

Pihak berwenang meningkatkan produksi batubara, menindak penimbunan, dan mempertimbangkan langkah-langkah seperti penghentian penerbangan dan minggu kerja empat hari. Para ekonom memperingatkan bahwa Filipina menghadapi peningkatan risiko inflasi, kekurangan energi, dan perlambatan ekonomi karena ketergantungan impornya yang tinggi.

Thailand tingkatkan langkah-langkah penghematan energi

Thailand adalah salah satu negara ASEAN yang paling terdampak karena bergantung pada impor untuk hampir 60 persen kebutuhan minyak mentahnya. Lebih dari setengah impor tersebut — bersama dengan lebih dari seperempat pasokan LNG — berasal dari Teluk. Dengan cadangan yang hanya mencukupi untuk sekitar dua bulan, Thailand telah menangguhkan ekspor minyak bumi untuk melindungi pasokan domestik.

Kenaikan biaya bahan bakar memicu inflasi dan menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan PDB. Pemerintah telah memperkenalkan kampanye penghematan energi yang terlihat jelas, termasuk mendorong penggunaan pakaian kantor yang lebih ringan (kaos alih-alih jas), membatasi penggunaan pendingin ruangan hingga suhu mendekati suhu sekitar, mengurangi penggunaan lift, dan mempromosikan penggunaan kendaraan bersama (carpooling).

Pusat penyulingan global di Singapura tertekan akibat gangguan pasokan

Singapura, pusat penyulingan dan perdagangan minyak global yang penting, sepenuhnya bergantung pada impor energi. Sekitar 70 persen pasokan minyak mentahnya berasal dari Teluk, di samping impor diesel dan LNG yang signifikan. Gangguan dalam rantai pasokan minyak global memengaruhi margin penyulingan, arus perdagangan, dan aktivitas keuangan. Akibatnya, ekonomi Singapura merasakan dampak sekunder dari harga energi yang lebih tinggi, meskipun tetap mempertahankan pasokan domestik yang stabil melalui cadangan strategis dan sumber yang terdiversifikasi. Langkah-langkah konservasi sedang diterapkan untuk mengelola permintaan.

Vietnam menghadapi cadangan yang rendah dan industri yang berdampak

Vietnam mengimpor sekitar 88 persen minyak mentahnya dari Teluk dan saat ini memiliki cadangan strategis kurang dari 20 hari — salah satu cadangan terendah di kawasan ini. Negara ini juga sangat bergantung pada impor LNG, dengan hampir setengahnya berasal dari Teluk. Pemerintah telah mengaktifkan dana stabilisasi harga bahan bakar dan sedang mencari pasokan minyak mentah alternatif dari mitra seperti Jepang dan Korea Selatan. Sektor manufaktur, pembangkit listrik, dan produksi industri telah terpukul.

Brunei dan Malaysia mendapat keuntungan dari harga minyak yang lebih tinggi

Berbeda dengan sebagian besar negara ASEAN, Brunei dan Malaysia adalah pengekspor bersih minyak dan gas dan relatif terlindungi dari krisis energi saat ini. Brunei, yang memproduksi sekitar 84.000 barel per hari, memiliki ketergantungan minimal pada impor dan mendapat manfaat dari harga minyak global yang lebih tinggi melalui peningkatan pendapatan ekspor, dengan gangguan domestik yang terbatas.

Malaysia, meskipun juga merupakan pengekspor bersih, mengimpor minyak mentah untuk menyeimbangkan bauran penyulingannya—sekitar 69 persen di antaranya berasal dari Teluk. Posisinya yang kuat dalam ekspor LNG memberikan penyangga, meskipun biaya penyulingan yang lebih tinggi sebagian dibebankan kepada konsumen.

Kamboja alami kekurangan bahan bakar

Kamboja sepenuhnya bergantung pada impor minyak dan sangat mengandalkan LPG dan bensin untuk transportasi dan penggunaan rumah tangga. Negara ini mengalami kekurangan bahan bakar yang parah, terutama di Phnom Penh, di mana para pengemudi tuk-tuk mengantre berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar. Harga isi ulang LPG telah melonjak lebih dari 50 persen, yang secara langsung memengaruhi mata pencaharian, biaya transportasi, dan mobilitas perkotaan.

Indonesia terlindungi oleh produksi energi dalam negeri meski merasakan tekanan

Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, kurang rentan dibandingkan negara-negara tetangganya karena produksi gas domestik dan bauran energi yang lebih terdiversifikasi. Meskipun tetap menjadi importir minyak bersih—dengan sekitar sepertiga dari permintaan dipenuhi melalui impor—hanya sekitar 20 persen yang bersumber dari Teluk. Indonesia juga merupakan eksportir gas alam bersih, yang memberikan ketahanan tambahan. Namun, kenaikan harga minyak global memberikan tekanan pada keuangan pemerintah, karena subsidi bahan bakar meningkat. Pemerintah mempercepat program biodiesel B50 untuk mengurangi ketergantungan pada minyak mentah impor.

Laos hadapi kenaikan biaya energi

Laos sepenuhnya bergantung pada impor minyak dan gas, yang sebagian besar disalurkan melalui negara tetangga Thailand dan rantai pasokan regional yang terhubung ke Teluk. Ketergantungan ini mendorong kenaikan tajam harga energi domestik, menambah tekanan pada rumah tangga dan bisnis. Pemerintah mengadopsi kebijakan konservasi yang serupa dengan negara-negara ASEAN lainnya untuk mengelola permintaan dan mengurangi tekanan pada impor.

Myanmar kekurangan bahan bakar di tengah ketidakstabilan politik

Myanmar menghadapi kekurangan bahan bakar yang terus-menerus meskipun produksi domestik terbatas, dengan situasi yang diperburuk oleh ketidakstabilan politik dan konflik. Impor bahan bakar — banyak yang berasal dari Teluk melalui perantara regional — menjadi tidak konsisten. Pasokan gas domestik tetap tidak dapat diandalkan. Pemerintah militer telah memberlakukan penjatahan bahan bakar yang ketat dan aturan penggunaan kendaraan ganjil-genap untuk mengendalikan konsumsi.