Kesederhanaan dalam Komunitas Tanpa Batas di Melawi

Ketua DPRD Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Widya Hastuti ingin mengimplementasikan gaya hidup bersahaja dan sedehana dengan meninggalkan budaya mewah melalui Komunitas Tanpa Batas.

 

Berangkat dari fenomena zaman sekarang yang selalu tentang kemewahan dan popularitas, membuat Widya bergerak untuk membentuk Komunitas Tanpa Batas, menjadi wadah bagi seluruh kalangan untuk belajar bersama dan mengembangkan potensi diri serta bakat.

 

Hal tersebut juga lah yang melatar belakanginya untuk menamai komunitas tersebut ‘Tanpa Batas’, menurutnya semua orang berhak mendapatkan perlakukan dan kesempatan yang sama tanpa memandang jabatan dan status sosial. Bahkan anggota dari komunitasnya pun ada dari kalangan tukang sapu, pedagang di pasar, dan lain-lain.

 

“Dinamakan Komunitas Tanpa Batas, karena saya berpikir dan saya tekankan kepada kawan-kawan saya yang ada di komunitas ‘kita berdiri sama tinggi duduk sama rendah’, jadi semua tidak ada kemewahan disitu kita berasal dari orang yang sama tidak boleh membawa strata, jabatan, status sosial, jadi tanpa batas itu dari kalangan bawah sampai atas,” katanya.

 

Berdiri sejak bulan Juli 2021, saat ini anggota yang terdaftar di komunitas tersebut sudah ada sebanyak 70 hingga 100 orang. Widya mengaku Ia dengan anggota lain memulai kegiatan komunitas dengan berolahraga seperti voli dan lain-lain. Ia juga membuka kesempatan bagi anggotanya yang memiliki usaha kecil-kecillan untuk menjajakan dagangannya saat kegiatan komunitas berlangsung.

 

“Kami mencoba untuk, ayo dong bawa makanan dari rumah, apa yang kalian masak dari rumah itu masing-masing membawa, jadi tidak ada yang namanya ngumpulin uang untuk sosialita nongkrong di kafe. Kami biasanya makan bersama dengan menu seadanya dibawa ke lapangan voli makan bersama,” tuturnya.

 

Karena fondasi dari komunitas ini adalah tidak membawa kemewahan, Widya pun mengajak kepada seluruh anggota untuk tidak membawa barang mewah pada saat kegiatan, seperti mobil, perhiasan, dan lain-lain yang akan menimbulkan kecemburuan sosial. Hal tersebut juga menjadi salah satu syarat utama untuk bisa masuk dalam komunitas.

 

“Masuk komunitas syaratnya satu bahwa tidak boleh membawa kemewahan itu saja, tidak boleh membawa sesuatu, biasanya ibu-ibu mudah terprovokasi dengan misal ada kawan satu bawa mobil pengen punya mobil saya melarang hal itu, boleh kalian membawa mobil kecuali membawa barang untuk kegiatan seperti bawa makanan pake mobil, tapi kalau tidak silahkan kalian parkir jauh-jauh,” ungkapnya.

 

Selain itu, Widya juga ingin mengembangkan kegiatan sosial di dalam komunitas, maka dari itu Ia ingin mendaftarkan komunitasnya ke akta notaris agar memiliki badan hukum yang jelas, dan mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah. Sehingga jika ada kejadian seperti bencana alam dan lain-lain komunitasnya bisa turun langsung dan membantu.

 

Widya berharap kedepannya Komunitas Tanpa Batas bisa berkembang, dan untuk anggotanya yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga untuk tidak minder dan bisa mengembangkan diri dengan berolahraga dan berbisnis kecil-kecilan. Ia juga membuka lebar bagi siapa saja yang ingin mengenal dirinya lebih dekat. Ia ingin membuka pandangan masyarakat bahwa pejabat juga masih bisa berbaur, dan mengenali pemimpinnya lebih dekat.

 

“Misalkan saya ketua DPRD pasti orang merasa minder untuk datang ke saya, tapi dengan komunitas ini karena membaur mereka dengan santai menawarkan segala dagangannya walaupun hanya sebatas ibaratnya sayuran yang harganya Rp 3.000, sekarang bebas masuk menawarkan dan sebagainya,” tandasnya. (Dw)

Related posts