Ketimbang Emas, 35 Persen Warga AS Lebih Pilih Bitcoin Untuk Investasi

Ketimbang Emas, 35 Persen Warga AS Lebih Pilih Bitcoin Untuk Investasi Ketimbang Emas, 35 Persen Warga AS Lebih Pilih Bitcoin Untuk Investasi

Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah laporan terbaru dari Nakamoto Project dan River, perusahaan jasa keuangan yang berbasis di Ohio, mengungkap bahwa kini lebih banyak warga Amerika yang memilih Bitcoin daripada emas untuk investasi.

Langkah ini menandai pergeseran besar dalam tren investasi. Sementara itu, menurut laporan The American Bitcoin Advantage oleh River, berdasarkan data yang dikumpulkan pada Mei 2025 ini, sekitar 50 juta warga Amerika (14,3% dari populasi) memegang Bitcoin, dibandingkan dengan 36,7 juta (10,6%) yang memiliki emas.

Nakamoto Project, yang melacak adopsi mata uang kripto di AS, juga menyoroti meningkatnya preferensi terhadap aset digital daripada penyimpanan nilai tradisional. Meskipun emas mencapai rekor tertinggi, daya tariknya sebagai investasi jangka panjang memudar.

Kini, Bitcoin terus mendapatkan popularitas, terutama di kalangan investor muda yang tertarik dengan sifat digitalnya dan potensi pengembalian yang tinggi. Pergeseran ini mencerminkan perubahan perspektif tentang bagaimana orang memilih untuk menyimpan dan mengembangkan kekayaan mereka.

AS Stop Produksi Uang Koin Sen?

Disisi lain, AS kini juga dikabarkan stop memproduksi uang dalam bentuk koin sen. Dikonfirmasi oleh Departemen Keuangan AS, negara tersebut akan berhenti membuat uang logam penny baru karena biaya produksi yang tinggi dan permintaan yang rendah, seperti dikutip dari Bloomberg.

Sebagai informasi, setiap penny membutuhkan biaya produksi hampir empat sen, yang menyebabkan kerugian tahunan sekitar $56 juta (sekitar Rp912 miliar). Dengan lebih dari 114 miliar (sekitar Rp1,85 kuadriliun) penny yang sudah beredar, para pejabat mengatakan koin tersebut tidak lagi penting.

Percetakan Uang AS, badan nasional yang memproduksi koin, telah memesan uang logam penny kosong terakhir, dengan produksi berakhir pada awal 2026. Keputusan ini sejalan dengan upaya untuk memangkas pemborosan pengeluaran, dan RUU bipartisan seperti “Make Sense Not Cents Act” sedang diperkenalkan untuk mendukung langkah tersebut.

Setelah dihapus, transaksi tunai nantinya akan dibulatkan ke lima sen terdekat, mirip dengan Kanada. Pembayaran digital tidak akan terpengaruh. Langkah ini diharapkan dapat memodernisasi penggunaan mata uang dan mengurangi pengeluaran pemerintah yang tidak perlu.

Foto : Ilustrasi/Dok. Shutterstock