Ketum Iprahumas Ingatkan Etika Penggunaan AI: Sebagai Alat Bantu, Bukan Merusak

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: istimewa Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Ketua Umum Ikatan Pranata Humas Indonesia (Iprahumas), Fachrudin Ali Ahmad, menyoroti penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif di berbagai sektor, termasuk komunikasi publik dan kehumasan.

Ia menegaskan, AI harus dimanfaatkan secara cermat sebagai alat bantu percepatan kerja, bukan sebaliknya menjadi ancaman bagi etika dan profesionalisme.

“Kita harus bersahabat dan memperkuat penggunaan AI sebagai alat bantu. Bukan sebagai alat yang malah merusak ya, karena kita juga harus memperkuat juga dengan namanya etika penggunaan, Lalu kita juga harus menghargai hak cipta dan lain sebagainya,” kata Ali kepada GPriority di Jakarta, Kamis (18/12).

Disamping itu, Ali mengakui, pemanfaatan teknologi digital dan AI saat ini masih bersifat konsumtif, namun hal tersebut bukan menjadi persoalan utama selama digunakan secara bertanggung jawab.

“Saat ini memang kami masih sebagai konsumtif ya, menggunakan belum memproduksi. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita juga menggunakan digitalisasi, AI secara tepat, bertanggung jawab dengan juga memperkuat etika, etika penggunanya dan berdampak,” katanya.

Ali menyebut hingga kini belum terdapat kode etik atau panduan khusus penggunaan AI di bidang komunikasi publik. Menurutnya, regulasi yang ada masih terbatas pada ranah jurnalistik.

“Saat ini kan memang belum ada ya, belum ada semacam kode etik ataupun panduan. Panduan mungkin sudah ada ya, tapi masih belum lengkap ya seperti Dewan pers sudah punya, tapi kan itu masih sisi jurnalistik, kita belum bicara komunikasi secara lengkap,” tutur Ali.

Ia berharap komunitas dan entitas kehumasan dapat duduk bersama untuk merumuskan panduan yang dapat diadopsi dan dipatuhi secara luas. Kata Ali, penyusunan panduan idealnya dilakukan secara kolaboratif, melibatkan pemerintah dan organisasi profesi.

“Nah untuk bisa itu tentunya kita gak bisa sepihak semua organisasi seminat, semua kementerian lembaga Itu mungkin kita bisa dorong bersama-sama untuk menghasilkan draf. Mungkin ada draft versi Komdigi, mewakili Pemerintah ada draft versi organisasi profesi seperti Perhumas, Iprahumas, APRI, nanti tinggal kita dialogkan itu mana yang kira-kira ini bisa menjadi panduan,” katanya.

Lebih lanjut, Ali berharap Pranata Humas mampu menjadi SDM unggul yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital dan AI.

“Kita berharap bahwa paling penting adalah Pranata Humas itu harus unggul, artinya profesional, juga punya kemampuan digital yang baik khususnya literasi Perkuat juga AI dan teknologi digital lainnya Sehingga memang punya kemampuan yang cukup baik untuk mendukung narasi dan penguatan layanan publik,” ucapnya.