Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berkolaborasi bersama IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), membahas evaluasi pembangunan masjid inklusif lewat seminar nasional yang diselenggarakan pada Selasa (10/2).
Seminar bertajuk, “Masjid Inklusif: Bersama Membangun Ruang Ibadah yang Berkeadilan” tersebut mempertemukan akademisi, pengelola masjid, tokoh agama, serta aktivis sosial dan masyarakat umum.
Selain mengevaluasi pembangun masjid inklusif, seminar ini juga membahas peran masjid sebagai ruang ibadah yang ramah, setara, dan terbuka tanpa adanya diskriminasi, dengan berfokus pada aksesibilitas penyandang disabilitas, kesetaraan gender, perlindungan kelompok rentan, beserta penguatan nilai keadilan sosial.
Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian PU, Dr. Ir. Maulidya Indah Junica, M.Sc., dalam paparannya menyampaikan bahwa masjid inklusif harus memenuhi 4 prinsip standar perencaan meliputi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.
“Tentunya bangunan tersebut harus kuat gitu, ya. Dinamis secara struktur kuat gitu, ya. Kemudian apabila ada kebakaran juga kita sudah pikirkan bahwa materialnya tidak muda terbakar, kesehatan disini memperhatikan sisi pengawasan, pencahayaan, kemudian pengolahan air, pengolahan sampah, dan juga penggunaan bahan material,” jelasnya.
Sementara dari sisi kenyamanan, dengan melihat kondisi udara dan ruang, kemudahan akses, serta aksesibilitas dari luar ruangan ke bangunan masjid, termasuk lantai-lantai yang ada.
“Jadi kemudahan ini bukan hanya untuk kaum disabilitas, tapi juga orang tua, lansia, dan juga anak-anak. Jadi semua harus difasilitasi kemudahannya,” tekannya.
Sementara terkait konsep green building, saat ini juga terus didorong Kementerian PU dan perlu diterapkan di masjid-masjid di tanah air. Termasuk yang berkaitan dengan konservasi energi, di mana air dapat digunakan ulang.
“Harapannya semakin banyak bangunan jumlah masjid yang menerapkan standar teknis dari tahap perencanaan. Kemudian aksesibilitas bangunan masjid juga terjamin dan menerapkan desain universal, sehingga terwujud bangunan masjid yang inklusif bagi jemaah,” tutup Maulidya.

