Masa Depan Media Antara Platform, Penyedia Konten, Bisnis dan Etika

Jakarta,Gpriority-Dalam acara Rakernas Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) yang berlangsung di Perpustakaan Nasional pada jum’at (1/2) menghadirkan beragam diskusi menarik.

Salah satunya diskusi mengenai masa depan media yang menghadirkan para pembicara seperti Nezar Patria, editor in Chief Jakarta Post, Ninuk Pambudi Pemred Kompas, Meidyatama Suryodiningrat Direktur Utama LKBN Antara, Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo dan Ahmad Aditya direktur Mahaka Media.

Dalam diskusi tersebut, Nezar patria editor in Chief Jakarta Post mengatakan bahwa pada saat ini pebisnis media berhadapan dengan platform seperti Facebook dan google. dua platform tersebut mampu menguasai dunia digital dengan pendapatan yang besar. Akibatnya perjuangan pebisnis media untuk mempertahankan good jurnalismenya agar bisa tetap eksis di dunia digital ini sepertinya menemui hambatan. Untuk itulah para pebisnis media siber sepakat untuk memberlakukan membership dan subscribe agar mampu bertahan hidup dan tidak bergantung kepada iklan.

Selain itu mereka juga menggugat platform untuk memberikan subsidi, agar bisa tetap eksis.

Ninuk selaku Pemred Kompas mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi pada saat ini adalah mengubah pola pikir yang terbiasa dengan cetak menjadi digital yang lebih cepat. Hal inilah yang membuat wartawan sebagai pembuat berita tidak lagi mengikuti acuan 5 w +1 h. Hal ini tentu saja mengkhawatirkan karena mereka membuat berita asal-asalan dan disenangi pembaca.

Selain itu, yang membuat bisnis media menjadi khawatir di era digital ini adalah daya dukung iklan tidak terlalu banyak. Untuk mendapatkan iklan, biasanya pengiklan melihat trafik terlebih dahulu. Dan mengenai trafik tidak bisa naik dengan cepat, sehingga banyak pengiklan yang memutuskan untuk tidak memasang produknya ke media tersebut.

Untuk itulah Nunik menyarankan agar pola pikir digunakan sebaik-baiknya di era teknologi ini, sehingga bisnis media digital menjadi bisa berkembang.
Meidyatama Suryodiningrat Direktur Utama LKBN Antara mengatakan Good Jurnalisme dan Bad Jurnalisme itu akan selalu ada di era media digital.

Namun pebisnis media tidak perlu khawatir Good Jurnalisme ini akan ditinggalkan. Karena masih banyak media yang menerapkannya.

“Kami yakin nilai jurnalistik baik bisa diteruskan oleh wartawan kita. Untuk itulah rasa optimis harus terus tertanam di dalam hati,”ucap Meidyatama.

Lebih lanjut dikatakan Meidyatma, Yang menjadi masalah pada bisnis media pada saat ini bukanlah Good Jurnalisme atau Bad Jurnalisme melainkan masalah iklan. “Kalau kita masih memikirkan iklan kita kembali ke 6 tahun lalu,” tuturnya.

Untuk itulah di industri 4.0 ini, Meidyatama menyarankan harus dimanfaatkan dengan baik oleh pebisnis media. Caranya ya tergantung dari pola pikir kita,sehingga ketergantungan kita kepada iklan berkurang.

Yosep adi Prasetyo selaku Ketua Dewan Pers mengatakan, yang membuat media di Indonesia tidak berkembang adalah tidak mempunyai ciri unik.

Yosep juga mengatakan, dalam bisnis media siber penting menemukan target yang harus dikejar untuk itulah harus dibuat bisnis plan yang dimulai dari biaya operasional, strategi untuk mendapatkan uang dan iklan, keuntungan yang di dapat serta target audiens. ” Jika tidak dibuat maka bisnis media tidak akan berkembang dan berjalan di tempat,”Kata Yosep.

Ahmad Adity Direktur Mahaka Media menjelaskan bahwa solusi menjalankan media online harus banyak bersyukur kepada Tuhan. Karena Tuhan memberikan anugerah kepada kita untuk menjalankan tugas yang diberikan.

Selain itu langkah-langkah untuk memajukan media adalah belajar dari media yang sudah maju, merubah gaya baru untuk mendapatkan informasi dan memahami Bisnis media. Dan terakhir harus memahami kompetitor kita kebanyakan startup.

“Dengan menjalankan langkah tersebut,saya yakin bisnis media siber bisa berkembang,” tutup Ahmad.(Hs.Foto:Hs)

Related posts

Leave a Comment