Jakarta, GPriority.co.id – Pada Hari Ayah Nasional yang jatuh pada Rabu (12/11) kemarin, terungkap bahwa sampai saat ini masih banyak anak Indonesia yang alami krisis figur ayah.
Sebagaimana dilansir dari rilis resminya, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Wihaji, menyebut jika sebanyak 15,9 juta anak Indonesia yang berusia kurang dari 18 tahun, kehilangan figur ayahnya.
Selain itu, sebanyak 11,5 juta anak diketahui tinggal bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu hingga tak bisa hadir secara emosional. Sementara 4,4 juta anak hidup dalam keluarga tanpa kehadiran fisik ayahnya.
Wihaji menyebut, penyebab utama terjadinya krisis figur ayah di Indonesia ialah karena pekerjaan yang menuntut mobilitas serta jam kerja yang sangat panjang. Akibatnya, banyak ayah yang hadir secara fisik namun tidak secara emosional karena kesibukan yang dimiliknya.
Di sisi lain, menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) pada bulan Februari 2025, sebanyak 5,46 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 60 jam per minggu atau sekitar 12 jam per hari. Budaya patriarki yang masih banyak dijalankan pun menjadi penyebab lainnya.
Dalam budaya patriarki, ayah hanya diposisikan sebagai pencari nafkah. Sementara pengasuhan anak diserahkan kepada ibu secara penuh. Padahal tidak hadirnya sosok ayah dapat berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak.
Terdapat 3 aspek utama peran ayah dalam proses pembelajaran anak sebagaimana dilansir dari Instagram @cnnindonesia. Pertama observasional, dimana ayah berperan sebagai role model bagi anak yang sedang belajar melalui pengamatan perilaku orang lain.
Kedua behavioral, yaitu berperan sebagai otoritas yang memberi batasan, penghargaan, serta koreksi terhadap perilaku anak. Terakhir kognitif, sebagai pengarah berpikir yang memberi nasihat serta dialog guna membantu anak untuk membentuk nilai moral.
Dampak buruknya apabila anak kekurangan figur ayah secara emosional ialah kesulitan dalam pembentukan identitas serta kepercayaan dirinya. Padahal dua hal tersebut menjadi fonasi penting dalam pengembangan emosional anak.
Di samping itu, anak juga akan mengalami berbagai masalah psikologi mulai dari kecemasan, depresi, kurang percaya diri, hingga perilaku agresif dan antisosial. Penelitian menyebut, anak yang mengalami fatherless cenderung memiliki performa akademik yang tak cukup baik. Bahkan risiko untuk terjerumus ke dalam perilaku menyimpangnya pun lebih tinggi.
Guna mencegah hal ini semakin banyak terjadi, Mendukbangga Wihaji pun meluncurkan program edukasi pada calon pengantin yang ingin membina rumah tangga mengenai peran serta tanggung jawab mereka sebagai orang tua.
Pemerataan lapangan kerja serta aturan jam kerja yang lebih ketat pun terus ditekankan agar anak tidak kekurangan peran ayah untuk hadir secara emosional.
