Jakarta, GPriority.co.id – Dalam kehidupan, kita pasti pernah bertemu dengan seseorang yang merasa iri saat kita lebih unggul dari segi prestasi. Baik di kantor, di lingkungan pertemanan, hingga lingkungan saudara sekalipun. Pada ilmu psikologi, hal ini dinamakan dengan tall poppy syndrome.
Fenomena tall poppy syndrome merupakan sebuah metafora tentang gambaran ladang bunga poppy. Disaat ada satu bunga yang tumbuh lebih tinggi, maka bunga tersebut akan dipotong agar setara atau di bawah bunga yang lain.
Sebagai contoh, di kehidupan nyata ketika ada seseorang yang menonjol, justru akan menjadi sasaran kritik atau berusaha dijatuhkan. Kecenderungan tersebut sering muncul karena perasaan tertinggal, ketakutan, atau cemas jika dibandingkan dengan orang lain.
Seseorang dengan sindrom tersebut akan mudah menjatuhkan orang lain saat dirinya merasa tidak nyaman.
Misalnya saja di lingkungan kerja, terdapat anggapan bahwa orang lain lebih sukses karena punya privilege. Di lingkungan pertemanan, pujian diutarakan teman kita dengan setengah hati atau saat kita merasa kurang diapresiasi, hingga tiba-tiba ditinggalkan oleh teman.
Begitupun di lingkungan keluarga, kita dijauhi saat lebih berhasil dan membuat saudara kita menjadi tidak nyaman. Fenomena ini juga bisa terjadi di ruang digital saat kita dihujani kritik dari orang asing yang bersembunyi di balik anonimitas.
Selain dapat membuat seseorang merasa cemas, tall poppy syndrome juga dapat menimbulkan perasaan terisolasi, bahkan menahan diri agar tidak menonjol, sehingga enggan menunjukkan potensinya.
Dilansir dari Newport Institute, pada penelitiian di tahun 2018, pada salah satu tempat kerja di Kanada ditemukan bahwa hampir 9 dari 10 responden (kebanyakan perempuan) merasa prestasi mereka diremehkan di tempat kerja.
Bahkan mereka juga diabaikan dan dibungkam setelah meraih kesuksesan. Perempuan dan laki-laki sama-sama cenderung melakukan perilaku tersebut, baik sebagai rekan kerja maupun supervisor.
Sekitar setengah dari responden mengatakan bahkan teman-teman mereka pun turut serta dalam menjatuhkan mereka. Satu dari 10 responden mengakui bahwa mereka pernah melakukannya kepada orang lain.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi tall poppy syndrome antara lain hargai diri sendiri dengan kemampuan yang dimiliki, menetapkan batasan diri, serta menjauhkan diri dari orang-orang yang ingin menjatuhkan. Carilah teman atau lingkungan positif yang sama-sama mendukung, alih-alih menjatuhkan.
