Jakarta, GPriority.co.id – Dunia musik dan kebudayaan Indonesia berduka atas kepergian Acil Bimbo, musisi dan budayawan legendaris, yang tutup usia pada Senin (1/9). Pria bernama lengkap Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah ini meninggal pada usia 82 tahun setelah berjuang melawan penyakit kanker paru-paru.
Jasadnya akan dikebumikan di pemakaman keluarga di Cimahi, Jawa Barat.
Acil adalah salah satu pendiri grup musik legendaris Bimbo yang terbentuk pada tahun 1967, bersama saudara-saudaranya Samsudin “Sam” Hardjakusumah dan Jaka Purnama, serta Lin Parlina.
Bagi sebagian besar generasi muda, Bimbo mungkin dikenal sebagai grup musik religi karena lagu-lagu mereka yang sering diputar di bulan Ramadan, seperti “Tuhan” dan “Sajadah Panjang”. Namun, Bimbo adalah kelompok musik yang lebih dari itu.
Bagi para penggemar setia, Bimbo dikenal sebagai grup yang vokal dalam menyuarakan isu-isu sosial dan politik.
Pada era 1970-an hingga 1980-an, mereka berani merilis lagu-lagu bertema politik seperti “Antara Kabul dan Beirut” serta “Surat untuk Reagan dan Brezhnev”.
Tak hanya politik, mereka juga menyentil isu sosial dengan lagu “Tante Sun”, yang mengisahkan kehidupan mewah ibu pejabat pada era 1970-an, bahkan menginspirasi sebuah film dengan judul yang sama pada tahun 1977.
Di luar musik, Acil Bimbo juga menunjukkan kepeduliannya pada isu lingkungan. Pada tahun 2000, ia menginisiasi LSM Bandung Spirit, sebuah lembaga yang fokus pada bidang lingkungan dan sosial.
Ia getol mempromosikan pelestarian alam dan bahkan memperkenalkan ritual tradisional seperti moro beurit, yang dilakukan sebagai penanda rusaknya lingkungan akibat populasi tikus di sawah. Acil Bimbo adalah sosok yang tak hanya menginspirasi melalui nada, tetapi juga melalui aksi nyata.
Pewarta: Rizqi Juned
Editor: Dimas A Putra
