Momen Astronaut Christina Koch Belajar Jalan Usai 10 Hari di Luar Angkasa

Astronaut misi Artemis II, Christina Koch, membagikan momen unik saat dirinya kembali beradaptasi dengan gravitasi Bumi setelah menjalani misi di luar angkasa. Foto: Instagram/astro_christina Astronaut misi Artemis II, Christina Koch, membagikan momen unik saat dirinya kembali beradaptasi dengan gravitasi Bumi setelah menjalani misi di luar angkasa. Foto: Instagram/astro_christina

Jakarta, GPriority.co.id – Astronaut misi Artemis II, Christina Koch, membagikan momen unik saat dirinya kembali beradaptasi dengan gravitasi Bumi setelah menjalani misi di luar angkasa.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Jumat (17/4), Koch memperlihatkan proses rehabilitasi fisik dengan cara berjalan menggunakan mata tertutup. Latihan ini dilakukan setelah ia menghabiskan 10 hari dalam kondisi mikrogravitasi.

“aku akan menunggu sebentar untuk berselancar lagi,” kata Koch dikutip GPriority, Minggu (19/4).

Ia juga menjelaskan bahwa kondisi tubuh manusia mengalami perubahan signifikan saat berada di luar angkasa, terutama pada sistem keseimbangan.

“Ketika orang hidup dalam gravitasi mikro, sistem dalam tubuh kita yang telah berevolusi untuk memberi tahu otak kita bagaimana kita bergerak organ vestibular, tidak bekerja dengan benar. Otak kita belajar untuk mengabaikan sinyal-sinyal itu dan jadi ketika kita pertama kali kembali ke gravitasi, kita sangat bergantung pada mata kita untuk mengarahkan diri kita secara visual,” tuturnya.

“Berjalan bersama dengan mata tertutup bisa menjadi tantangan yang cukup! Mempelajari hal ini dapat membantu menginformasikan bagaimana kita mengobati vertigo, gegar otak dan kondisi neuro-vestibular lainnya di Bumi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Koch mengungkapkan bahwa tubuhnya mulai kembali beradaptasi dalam waktu relatif singkat setelah kembali ke Bumi.

“Untungnya kita sudah beradaptasi kembali ke gravitasi pada 7 hari pasca-splashdown!,” ucapnya.

Secara ilmiah, kondisi ini terjadi karena gangguan pada organ vestibular, yaitu organ sensorik di dalam telinga yang berfungsi mendeteksi posisi kepala dan pergerakan tubuh.

Saat berada dalam mikrogravitasi, fungsi organ tersebut tidak berjalan normal. Akibatnya, ketika kembali ke Bumi, astronaut cenderung kehilangan keseimbangan, terutama saat berjalan tanpa bantuan penglihatan seperti ketika mata tertutup.

Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga menjadi bahan penelitian penting bagi dunia medis. Studi terkait adaptasi tubuh astronaut diyakini dapat membantu pengembangan penanganan berbagai gangguan seperti vertigo, cedera otak ringan, hingga masalah sistem saraf keseimbangan lainnya.