Jakarta, GPriority.co.id – Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, menanggapi laporan terkait makanan ultra-olahan yang dijadikan menu pada program MBG (Makan Bergizi Gratis).
Yeka menegaskan, harusnya makanan ultra-olahan seperti sosis, nugget, hingga burger, tak boleh dijadikan menu pada program MBG.
“Diharapkan BGN tidak lagi memaksakan membeli sosis, nugget di dalam menu (MBG), atau burger gitu. Namanya aja junk food,” ungkap Yeka saat dimintai keterangan oleh wartawan pada Selasa (30/9).
Yeka melanjutkan, kehadiran makanan ultra-olahan seperti sosis dan nugget bertentangan dengan tujuan utama dari program MBG yang sedari awal ingin memberikan asupan gizi berkualitas, khususnya untuk anak-anak. Yeka menegaskan, sudah seharusnya makanan yang dihadirkan pada menu MBG, unsur gizinya benar-benar terpenuhi.
Oleh karena itu, program MBG tak boleh mengandalkan bahan makanan instan atau kemasan pabrik. Selain nilai gizinya rendah, bahan makanan tersebut juga kurang berperan dalam meningkatkan kesehatan penerima manfaat program ini.
Ke depannya, Yeka berharap pemerintah dapat lebih selektif dan cermat dalam menetapkan standar bahan baku serta pilihan menu pada program prioritas Presiden Prabowo ini.
Ia memberi catatan, “Makanan pada MBG bukan hanya mengandung gizi seimbang, tetapi juga aman untuk dikonsumsi setiap hari oleh anak-anak.”
Pernyataan tersebut sejalan dengan ahli gizi dr. Tan Shot Yen yang sebelumnya juga mengkritik SPPG yang kerap kali berbuat nakal. Salah satunya dengan memberikan burger dengan daging olahan murahan. Tan turut mengingatkan jika tujuan utama MBG ialah untuk menyehatkan anak bangsa. Jangan sampai berpotensi membiasakan anak-anak untuk makan makanan instan apalagi dari impor.
Di sisi lain, Ombudsman mencatat adanya 34 kejadian luar biasa (KLB) keracunan yang menyebabkan ribuan korban selama pelaksanaan program MBG sejak Januari hingga September 2025, dengan mayoritas anak sekolah.
“Di Kabupaten Garut ada 657 siswa keracunan setelah mengonsumsi nasi kotak dari MBG. Di Kulon Progo, Yogyakarta, 497 siswa juga mengalami gejala serupa. Yang paling besar di Bandung Barat. Ada 1.333 siswa yang keracunan dan mendapat perawatan medis. Kasus lain juga terjadi di Bengkulu, Sulawesi Tengah, Bogor, juga Belitung,” lapor Yeka.
