Jakarta, GPriority.co.id – Guna memastikan keselamatan kapal dan warga negara Indonesia (WNI) di Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), terus melakukan komunikasi dengan Iran.
Disampaikan oleh Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, Jumat (13/3) kemarin, langkah ini dilakukan guna memastikan kapal-kapal yang terkait dengan Indonesia dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
“Kami saat ini terus melakukan pendekatan diplomatik yang intensif dengan otoritas Iran untuk memastikan kapal kita dapat melewati Selat Hormuz dengan aman,” ungkap Yvonne.
Yvonne melanjutkan, saat ini keselamatan para kru kapal, termasuk WNI yang bekerja di dalamnya, menjadi fokus utama Pemerintah indonesia.
Untuk itu, Kedutaan Besar RI di Teheran juga terus berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri Iran serta otoritas terkait, untuk meng-update perkembangan situasi di kawasan tersebut.
“Jadi fokus perusahaan dan pemerintah adalah keselamatan para kru, termasuk WNI kita. Kedubes RI di Teheran juga terus berkomunikasi dengan Kemlu Iran dan otoritas terkait mengenai hal ini,” ujar Yvonne.
Kemlu RI pun menegaskan, pendekatan diplomatik akan terus dilakukan mengingat isu keselamatan kapal dan kru di kawasan tersebut sangat krusial bagi Indonesia.
Sebagai informasi, sebelumnya dua kapal milik Pertamina International Shipping, VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih berada di kawasan Teluk Arab dan menunggu situasi lebih aman sebelum melanjutkan pelayaran melalui Selat Hormuz, pada Selasa (10/3).
Kapal Gamsunoro sendiri mengangkut kargo milik pihak ketiga, sementara VLCC Pertamina Pride membawa minyak mentah dengan jenis light crude oil, untuk kebutuhan energi dalam negeri.
Perlu diketahui, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur minyak terpenting di dunia, dengan sekitar 18 hingga 19 juta barel yang melewatinya setiap hari.
Penutupan Selat Hormuz dapat menjadi bumerang bagi Iran. Hal ini berisiko menimbulkan pembalasan militer dari Amerika Serikat, yang memiliki pasukan di dekatnya.
Selain itu, langkah tersebut juga dapat membatasi akses Iran ke barang-barang penting dan merugikan ekonominya. Mitra dagang utama seperti China, yang membeli minyak Iran dalam jumlah besar, juga dapat bereaksi negatif.
