Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi menghentikan operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2025, meski masih tersisa dua bulan menuju 2026.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat kerja antara Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, dan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor Kemenhut, Senin (13/10).
Menhut Raja Juli menjelaskan, penghentian operasi pengendalian karhutla dilakukan karena Indonesia telah memasuki fase tantangan baru, yakni bencana hidrometeorologi basah.
“Secara teoritis tadi Ibu Kepala BMKG dan juga Bapak Kepala BNPB mengatakan bahwa sekarang justru kita sudah masuk ke tantangan berikutnya, yaitu bencana hidromaterologi basah. Dan dengan sendirinya bahaya atau ancaman Kahutlak dapat kita katakan selesai,” kata Raja Juli kepada wartawan.
Meski demikian, masih terdapat dua provinsi yang belum menutup operasi pengendalian karhutla, yaitu Riau dan Sumatera Selatan. Keduanya masih menjalankan operasi hingga 30 November 2025 sesuai dengan Surat Keputusan (SK) yang telah diterbitkan. Menurut Raja Juli, hal tersebut bukan masalah besar.
“Jadi mungkin nanti kita akan berbincang dengan Pak Gubernur, apakah beliau mencabut SK tersebut, atau dibiarkan dengan tetap ada, mungkin nanti bisa dibicarakan. Jadi bukan masalah besar,” tuturnya.
Lebih lanjut, Raja Juli menegaskan bahwa meskipun operasi resmi dihentikan, pasukan di lapangan tetap akan bersiaga untuk memantau situasi.
“Saya katakan bahwa operasi penanggulangan Karhutla ini berhenti secara resmi, bukan berarti kemudian pasukan di lapangan berhenti bekerja. Jadi semua tetap akan bekerja, memantau kalaupun ada kejadian yang darurat, bahwa kami tetap akan berkoordinasi untuk melakukan itu,” ucap Raja Juli.
Lebih jauh, Raja Juli menumumkan hasil operasi pengendalian karhutla, dimana angka karhutla pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024.
“Pada tahun 2024 kebakaran hutan dan lahan jumlahnya 376.805 hektare. Pada tahun ini 213.984 hektare. Sekali lagi masih ada beberapa bulan kita akan update, tapi semua percaya bahwa angkanya insya Allah akan dibawah daripada tahun berikutnya,” pungkasnya.
Pewarta : Fifi Abdurahman
