Minum Teh atau Kopi Saat Makan? Dokter Gizi Ingatkan Bahayanya

Ilustrasi minuman kopi/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Makan dan minum merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai sumber energi, salah satunya melalui pemenuhan kebutuhan cairan dengan mengonsumsi air putih.

Namun, tidak sedikit orang yang kurang menyukai air putih karena dianggap hambar. Sebaliknya, minuman kemasan berpemanis justru lebih diminati. Akibatnya, banyak orang lebih memilih minuman manis dibandingkan air putih.

Dokter gizi dari RSPI Sulianti Saroso, Nita, mengatakan bahwa tubuh manusia terdiri dari sekitar 70 persen cairan yang berperan penting dalam proses metabolisme.

“Tentu buat fungsi ginjal yang baik, kita kan harus cukup cairan. Dan pasti air putihdibandingkan yang berwarna. Apalagi kalau sudah plus gula, sirup, dan lainnya. Nah, ini yang bahaya nih. Nah, kemudian air putih juga tentu bermanfaat untuk konsentrasi kita,” ujar Dokter Nita dalam diskusi bertajuk Orang Dewasa, Pola Makan Jangan Asal yang disiarkan melalui Instagram Kemenkes RI, Senin (2/2).

Ia menegaskan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan harian. Untuk orang dewasa, kebutuhan cairan rata-rata sekitar delapan gelas atau kurang lebih dua liter per hari. Konsumsi tersebut sebaiknya dibagi sepanjang hari dan tidak diminum sekaligus.

Menurutnya, cara sederhana untuk mengetahui kecukupan cairan adalah dengan memperhatikan warna urine. Urine yang berwarna bening menandakan tubuh cukup cairan, sementara urine berwarna pekat dan frekuensi buang air kecil yang jarang perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan ginjal.

Terkait konsumsi minuman seperti teh dan kopi, Dokter Nita menyebutkan bahwa keduanya masih boleh dikonsumsi, asalkan dilakukan secara bijak dan tidak menggantikan air putih sebagai sumber cairan utama.

“Kalau untuk kopi atau teh tanpa gula, ya tadi masih boleh. Tapi nggak banyak. Mungkin sekitar 1-2 cangkir per hari. Karena kan mereka juga mengandung kafein. Cuma saya tidak menyarankan kalau seperti teh itu dikonsumsi pada saat makan. Kenapa? Karena kandungan dari si teh ini, dia tuh bisa menghambat penyerapan zat besi dari makanan kita. Jadi disarankan tidak pada saat makan untuk konsumsinya,” jelasnya.

Dokter Nita pun menyarankan agar konsumsi teh atau kopi diberi jeda sekitar dua hingga tiga jam setelah makan, sehingga makanan yang telah dikonsumsi dapat dicerna dengan baik oleh tubuh.