Jakarta, GPriority.co.id – Jika selama ini anda cenderung menghindar untuk mencium aroma kentut sendiri, mungkin anda akan berubah pikiran setelah mengetahui penelitian terbaru ini.
Belum lama ini, para peneliti di Johns Hopkins Medicine menemukan bahwa hidrogen sulfida (senyawa kimia berbau seperti telur busuk yang dikeluarkan saat kentut), dapat melindungi sel-sel otak yang menua dari penurunan kognitif dan Alzheimer.
“Data baru kami menemukan hubungan penuaan, neurodegenerasi, dan pensinyalan sel menggunakan hidrogen sulfida dan molekul gas lainnya di dalam sel,” ungkap Dr. Bindu Paul, profesor madya di pusat medis bergengsi dan salah stu penulis studi.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggunakan tikus hasil rekayasa genetika yang meniru penyakit Alzheimer pada manusia. Mereka kemudian menyuntikkan tikus dengan senyawa pembawa hidrogen sulfida yang disebut NaGYY, yang secara perlahan melepaskan molekul gas tersebut ke seluruh tubuh.
Setelah 12 minggu, para peneliti kemudian menguji tikus-tikus tersebut untuk melihat perubahan dalam memori dan fungsi motorik. Peneliti kemudian menemukan hasil mengejutkan.
Dari tes tersebut terungkap jika fungsi kognitif dan motorik tikus yang disuntikkan senyawa pembawa hidrogen sulfida, meningkat secara signifikan hingga 50 persen dibandingkan dengan tikus yang tidak disuntikkan. Tikus tersebut terlihat lebih aktif secara fisik dan menunjukkan daya ingat yang lebih baik.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perilaku penyakit Alzheimer dapat dibalikkan dengan memasukkan hidrogen sulfida,” ungkap para peneliti.
Tubuh manusia secara alami menghasilkan sejumlah kecil hidrogen sulfida untuk membantu mengatur fungsi di seluruh tubuh. Enzim yang disebut glikogen sintase beta membantu mengatur pemrosesan sel.
Dalam penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa kentut wanita memiliki konsentrasi hidrogen sulfida yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan kentut pria. Artinya, kentut wanita cenderung memiliki intensitas bau yang lebih kuat.
Sayangnya, kadar hidrogen sulfida menurun seiring bertambahnya usia. Sedangkan menurut penelitian lainnya, ketika enzim tersebut tidak ada, protein mulai menempel erat dengan protein lainnya yang disebut ‘Tau’.
Jika keduanya terlalu berikatan, Tau akan membentuk gumpalan di neuron dan menghambat komunikasi antar sel saraf dan menyebabkan kematian sel-sel tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan hingga hilangnya fungsi kognitif, memori, serta motorik.
