Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah Indonesia melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, resmi melarang penjualan gas LPG 3 Kg di pengecer atau warung, mulai Sabtu (1/2) lalu.
Usai penjualan gas LPG 3 Kg dibatasi, warga terlihat rela mengantre panjang di pangkalan resmi Pertamina, pada berbagai daerah. Bahkan mereka juga rela antre dari subuh.
Warga yang sebelumnya membeli gas di warung karena lebih praktis, kini harus mengantre lama demi memenuhi kebutuhan memasak mereka.
Seperti di Jalan Palem Raya, Cibodas, Kota Tangerang, salah satunya. Antrean panjang bahkan sampai menyebabkan kemacetan.
Seperti dilansir dari Antara pada Selasa (4/2), seorang warga bernama Rudiyah, mengaku kesulitan mendapatkan gas sejak pertengahan Januari dan terpaksa mengantre dari subuh tanpa kepastian stok.
Situasi yang serupa juga terjadi di Tangerang Selatan, di mana warga mulai mengantre sejak subuh di agen resmi.
Menurut salah satu warga bernama Lina, dirinya bahkan harus absen kerja demi mendapatkan gas LPG 3 Kg yang stoknya semakin langka.
Sementara menurut warga lain, Bagas, ia pun diminta membawa formulir dan fotokopi KTP, namun tetap tidak mendapatkan gas setelah kembali.
Banyak warga berharap kebijakan ini dapat lebih jelas dan transparan kedepannya. Terutama terkait harga dan ketersediaan stok gas LPG 3 Kg, agar masyarakat tidak semakin kesulitan.
Menteri Bahlil: “Satu Orang Jangan Beli Banyak-Banyak, Dong!”

Melihat fenomena warga mengantre dari subuh untuk mendapatkan gas LPG 3 Kg atau gas melon ini, Menteri Bahlil pun buka suara.
Alih-alih memberi solusi, Menteri Bahlil memberikan pernyataan seolah dirinya tak mau disalahkan atas fenomena gas LPG 3 Kg yang stoknya kian langka tersebut.
“Satu orang jangan beli banyak-banyak, dong! Kalau hanya untuk konsumsi rumah tangga, kan pasti ada batasannya. Tapi kalau satu orang, satu rumah tangga, sudah beli sampai 30 tabung, 40 tabung, berarti kan ada maksud lain,” tegas Menteri Bahlil ketika disinggung oleh wartawan.
Foto : Ilustrasi/ANTARA
