Perbedaan Bullying dan Ragging yang Viral Usai Kasus Perundingan SMA Binus Serpong

Jakarta, GPriority.co.id – Kasus bullying yang terjadi di SMA Binus Serpong, beberapa waktu lalu menyita perhatian publik. Selain karena beberapa nama pelaku merupakan anak dari orang-orang terkenal, tetapi juga merupakan anak dibawah umur.

Sementara itu, korbannya aksi bullying ini adalah seorang anak laki-laki yang harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Korban mengalami perundungan, kekerasan fisik seperti pemukulan, penendangan, pengikatan, penyundutan rokok, hingga pengancaman.

Selain istilah bullying yang sedang banyak dibicarakan, dalam kasus ini juga terdapat istilah ragging. Netizen pun banyak yang mencari tahu apa perbedaan keduanya.

Bullying adalah tindak kekerasan yang terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti fisik, verbal, dan cyberbullying. Bullying fisik meliputi pemukulan, tendangan, dan dorongan.

Sedangkan bullying verbal termasuk ejekan, penghinaan, dan ancaman. Cyberbullying adalah bullying yang dilakukan melalui media elektronik, seperti internet dan media sosial.

Dalam Bahasa Indonesia, bullying biasa juga disebut perundungan.

Lalu, apa itu ragging?

Ragging adalah tindakan seorang anak atau siapapun dengan sengaja mendekati geng yang dikenal urakan agar bisa bergabung ke dalamnya.

Sederhananya, seperti dalam kasus bullying SMA Binus Serpong ini, ragging adalah ketika seorang anak dengan sengaja mendekati geng yang dikenal urakan, agar bisa bergabung ke dalamnya. Anak itu pun tahu bahwa setiap anggota baru akan dikenai perlakuan tak senonoh, dengan beragam tindak kekerasan. Lantas, bergabunglah anak itu ke dalam geng tersebut dan wajib menjalani ritual atau seremoni kekerasan yang memang merupakan identitas atau budaya geng tersebut. Maka tindakan ini dapat diartikan juga sebagai tindakan ragging.

Menurut pakar psikologi forensi, Reza Indragiri Amriel, dalam bullying, dikotomi pelaku dan korban sangat jelas. Sedangkan dalam ragging, relasi antar anak tidak lagi hitam putih. Apalagi jika si anggota baru bertahan dalam geng tersebut, maka ia pun sesungguhnya bukan korban. Mindset-nya adalah ia secara sengaja melalui “masa belajar” untuk kelak menjadi pelaku kekerasan pula.

Berdasarkan sebuah penelitian, tindakan penindasan seperti bullying dan ragging, sama-sama dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental seseorang. Tindakan tersebut menyebabkan perasaan tidak aman, enggan terlibat dalam lingkungan sosial atau masyarakat, hingga dalam kasus ekstrem, dapat memunculkan pikiran seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Foto : Suara Merdeka Pekalongan