Jakarta, GPriority.co.id – Setelah menghadiri KTT ASEAN ke-47 yang dijadwalkan pada 26-28 Oktober 2025 di Malaysia, Presiden Prabowo Subianto akan lanjut mengikuti agenda KTT APEC di Korea Selatan pada 31 Oktober-1 November 2025.
KTT APEC di tahun ini mengusung tema “Membangun Masa Depan yang Berkelanjutan”, dengan fokus utama untuk membangun masa depan yang bukan hanya sekadar melihat kemajuan negara dari sisi ekonomi, namun juga pentingnya aspek keadilan secara berkelanjutan.
KTT APEC akan berlangsung di Gyeongju. Nantinya, Prabowo akan membawa dua isu utama yaitu Artificial Intellegence (AI) seta demografi.
“Pada KTT APEC mendatang, Indonesia akan menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang dalam penggunaan AI. Sebagaimana kita tahu, pengembangan teknologi ini perlu dilakukan namun juga harus melihat dan memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan,” tutur Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Abdul Kadir Jailani dalam agenda press briefing, Rabu (22/10).
Kadir menambahkan, tanggung jawab sosial dan keberlanjutan juga akan menjadi perhatian khusus. Sementara itu, isu demografi menjadi fokus kedua yang akan disampaikan Indonesia pada KTT APEC. Dalam hal ini, Indonesia menyoroti populasi yang menua dan menjadi tantangan utama di berbagai negara APEC.
“Forum ini akan digunakan untuk tukar pandangan, saling belajar, serta berbagi pengalaman terbaik. Dengan ekonomi lainnya, guna memperkuat ketahanan ekonomi terlebih dalam menghadapi tantangan perubahan demografi ini di masa yang akan datang,” tambah Kadir.
Kadir menekankan, kehadiran Indonesia pada KTT APEC memiliki arti strategis terlebih dalam menyampaikan pandangan serta gagasan guna menentukan kerja sama kawasan untuk mengatasi tantangan AI sekaligus perubahan demografi.
Hadirnya Indonesia dalam forum tersebut juga untuk memastikan APEC menghasilkan kerja sama yang dapat berdampak nyata terutama untuk masyarakat Indonesia, diharapkan dapat dirasakan oleh pelaku usaha serta di dunia kerja.
“Memang sering kali banyak kritik yang hadir dan mengatakan APEC tidak bersentuhan langsung dengan publik, dengan ekonomi nyata, ekonomi real di lapangan,” pungkasnya.
