Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar bahasa Prancis diajarkan di seluruh tingkatan sekolah di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kenegaraan ke Prancis dan pertemuan dengan Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Jumat (29/5) kemarin.
Menurut Prabowo, langkah ini merupakan bagian dari penguatan kerja sama pendidikan sekaligus persiapan menghadapi perkembangan global di masa depan.
“Semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis melihat perkembangan dunia ke depan,” ujar Prabowo dalam pernyataannya di Paris. Pemerintah menilai penguasaan bahasa asing menjadi salah satu modal penting untuk meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia di tingkat internasional.
Namun, usulan ini memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat: seberapa sulit sebenarnya bahasa Prancis untuk dipelajari?
Dihimpun dari berbagai sumber, dibandingkan bahasa Inggris, bahasa Prancis dikenal memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi, terutama dalam aspek pelafalan.
Banyak huruf dalam bahasa Prancis tidak dibaca sesuai tulisan, sementara beberapa bunyi vokalnya tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia.
Hal ini membuat pelajar pemula membutuhkan waktu lebih lama untuk membiasakan diri dengan pengucapan yang tepat.
Selain pelafalan, tata bahasa Prancis juga cukup kompleks. Bahasa ini memiliki sistem gender untuk kata benda, yaitu maskulin dan feminin, yang memengaruhi bentuk artikel maupun kata sifat.
Pelajar juga harus memahami konjugasi kata kerja yang berubah sesuai subjek dan waktu penggunaan.
Meski demikian, sejumlah ahli bahasa menilai bahasa Prancis bukan bahasa yang mustahil dipelajari. Kosakata Prancis memiliki banyak pengaruh terhadap bahasa Inggris modern, sehingga siswa yang sudah menguasai bahasa Inggris biasanya lebih mudah mengenali berbagai istilah.
Selain itu, perkembangan teknologi pembelajaran digital membuat akses belajar bahasa asing kini jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya.
Bahasa Prancis sendiri merupakan salah satu bahasa internasional yang digunakan di berbagai organisasi dunia, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, dan berbagai lembaga diplomatik internasional.
Penguasaan bahasa ini dinilai dapat membuka peluang pendidikan, beasiswa, hingga karier di sektor global.
Jika kebijakan tersebut benar-benar diterapkan secara luas, tantangan terbesar kemungkinan terletak pada kesiapan tenaga pengajar, kurikulum, serta ketersediaan fasilitas pembelajaran.
Namun di sisi lain, langkah ini berpotensi memperluas kompetensi bahasa asing siswa Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
