Profil Qausar Harta Yudana, Artis FTV yang Jadi Bacaleg DPR RI Dapil 1 Aceh

Jakarta, GPriority.co.id – Sudah menjadi hal yang biasa, saat seorang artis mencoba keberuntungan di dunia politik untuk duduk di tahta anggota legislatif.

Begitupun dengan Qausar Harta Yudana, yang telah terkenal karena karyanya di dunia FTV Indonesia.

Tahun ini, Qausar mencoba keberuntungan di dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai Bacaleg DPR RI Dapil 1 Aceh.

Qausar Harta Yudana, lahir di Banda Aceh pada 2 September 1992. Dikutip dari Wikipedia, Qausar merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Qausar lahir dari orangtua yang keduanya asli Aceh.

Qausar merupakan seorang lulusan dari Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Film dan Televisi.

Memulai kariernya pada tahun 2005, Qausar mengawali kariernya di dunia modeling. Ia juga sempat mengemban juara favorit di dunia ini.

Qausar kemudian merambah ke dunia akting, dengan membintangi sejumlah sinetron seperti ‘Habibi dan Habibah’, ‘Samson Betawi’, serta ‘Syamsul Badriah’.

Di tahun 2010, Qausar kemudian mendapat kesempatan untuk bermain di film layar lebar besutan sutradara ternama, Hanung Bramantyo, berjudul ‘Sang Pencerah’.

Dirinya masuk nominasi Aktor Pendatang Baru Terfavorit di ajang Indonesian Movie Awards 2012, lewat film Pengejar Angin (2011).

Walaupun tak mendapat piala, di tahun 2012 Qausar memenangkan Piala Film Festival Bandung untuk kategori Pemeran Utama Pria Terpuji, dalam film Pengejar Angin.

Ia juga memenangkan Duta Pariwisata Abang None (2012), Psychology Film Festival Surabaya (2015), dan Malang Film Festival (2016) untuk karya film pendeknya yang berjudul ‘Palang Pintu’.

Sebanyak 16 judul film dan puluhan FTV, telah dilakoni Qausar. Pada 19 Mei 2022, Qausar resmi menikahi Masayu Clara, yang juga merupakan rekan kerja dalam FTVnya. Dari pernikahannya, Qausar dikaruniai 2 orang putra.

Di tahun ini, Qausar mencoba menyalonkan diri menjadi Bacaleg DPR RI Dapil 1 Aceh, dengan dukungan dari partai PSI.

Salah satu tujuan Qausar mencalonkan diri adalah untuk mendukung para seniman di Aceh agar dapat terus berkembang.

“Seniman-seniman di aceh banyak yang mandiri, tetapi mereka harus didukung pemerintahan supaya bisa mengupgrade dan berkembang kedepannya,” ujarnya.

Menurut Qausar, PSI menjadi wadah yang bagus untuk kaum-kaum milenial menyuarakan pendapatnya.

“Saya merasa bisa membantu dalam menyuarakan apa yang ingin disampaikan masyarakat, terutama kaum milenial kepada pemerintah,” tambah Qausar dalam sebuah postingan video di Instagramnya.

Foto : X/@psi_id