Profil Syekh Ali Jaber, Pendakwah Penghafal Alquran sejak Usia 11 Tahun


Jakarta, Gpriority – Indonesia kembali kehilangan salah satu ulama besar, Syekh Ali Jaber. Pria bernama lengkap Syekh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) di tahun 2008 silam.

Ia resmi menjadi WNI usai dirinya resmi menikahi wanita asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia bernama Umi Nadia.

Dari hasil mereka, Syekh Ali Jaber di karuniai seorang putra yang diberi nama Hasan.

Pria kelahiran Madinah pada 44 tahun silam atau tepatnya Februari 1976 tersebut merupakan anak pertama dari 12 bersaudara. Dirinya mendapatkan pendidikan formal di dari Madrasah Ibtidaiyah hingga Aliyah di Madinah.

Setelah lulus sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikan khusus pendalaman Alquran kepada tokoh dan ulama ternama yang berada di Madinah dan luar Madinah, Arab Saudi.

Ia mendapatkan pendidikan formal dari ibtidaiyah hingga aliyah di Madinah. Setelah lulus sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikan khusus pendalaman Alquran kepada tokoh dan ulama ternama yang berada di Madinah dan luar Madinah, Arab Saudi.

Pada tahun 2008, kala usia 32 tahun, Syekh Ali Jabir terbang ke Indonesia. Ia menuju ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), asal istrinya tinggal. Di sini ia menjadi guru Tahfidz (hapalan) Quran, Imam salat, khatib di Masjid Agung Al- Muttaqin Cakranegara Lombok, NTB, Indonesia.

Di sana, Ali Jaber sering berdakwah, dan dari ketulusannya berdakwah, ia mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak itu Ali Jaber rutin mengisi acara Damai Indonesiaku di TvOne dan menjadi juri Hafizh Indonesia di RCTI.

Selanjutnya, Ia mendirikan Yayasan Syekh Ali Jaber berkantor di Jatinegara, Jakarta, dan ia sendiri tinggal di Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Ali Jaber juga sempat membintangi, dan menjadi aktor dalam film Surga Menanti, pada tahun 2016. Film berkisah tentang Dafa (Syakir Daulay) remaja yang bercita-cita menjadi seorang Hafizh Qur’an.

Menjadi seorang pendakwah, berawal dari keinginan sang ayah. Ayah Ali Jaber sendiri juga diketahui merupakan seorang pendakwah.

Dalam mendidik agama, khususnya Al-Quran dan salat, ayahnya sangat tegas, bahkan tidak segan-segan memukul bila Ali Jaber kecil tidak menjalankan salat. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius. Di Madinah ia memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara, Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam.

Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai kebutuhannya sendiri. Di samping itu, ia juga merasa punya beban dan tanggung jawab atas keinginan ayahnya. Apalagi dia anak pertama yang diharapkan meneruskan perjuangan ayahnya. Berkat bimbingan sang ayah, pada usia sebelas tahun, Ali Jaber telah hafal 30 juz Al-Quran.

Bahkan sejak pada usia 13 tahun, ia diamanahkan menjadi imam masjid di salah satu masjid di Kota Madinah.

Namun, Ali Jaber sempat mendapatkan musibah ketika sedang mengisi ceramah di Masjid Falahuddin, Sukajawa, Bandar Lampung pada 13 September 2020.

Syekh Ali Jaber ditikam oleh orang yang tidak dikenal saat sedang berceramah, yang mengakibatkan dirinya mengalami luka tusuk bagian lengan kanan.

Pelaku penikaman akhirnya di tangkap, pelaku bernama Alfin Andrian, kelahiran 1 April 1996.

Syekh Ali Jaber dinyatakan meninggal dunia oleh pihak RS YARSI, Cempaka Putih, Jakarta, pada Kamis, 14 Januari 2021 sekira pukul 08.30 WIB, setelah menjalani perawatan selama beberapa hari akibat negatif Covid-19.(Zul)

Related posts