Profil Ustadz Khalid Basalamah, Pendakwah yang Terseret Kasus Korupsi Haji 

Khalid Basalamah. Foto:(Dok/Pinterest) Khalid Basalamah. Foto:(Dok/Pinterest)

Jakarta, GPriority.co.id – Nama Ustadz Khalid Basalamah telah menjadi nama yang familiar bagi banyak orang di Indonesia. Ia dikenal sebagai pendakwah dengan gaya yang lugas, sering menggunakan referensi kitab klasik. Selama berkarier di dunia dakwah, ia kerap menjadi pusat perdebatan.

Kini, sebagai pemilik perusahaan perjalanan haji dan umrah, namanya kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena ceramahnya, melainkan karena penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan penyimpangan dalam pengelolaan kuota haji. Biro perjalanannya diduga terlibat dalam kasus penjualan kuota haji tahun 2024, dan penyelidikan atas kasus ini masih berlangsung.

Profil Khalid Basalamah

Khalid Zeed Abdullah Basalamah lahir di Makassar pada 1 Mei 1975. Ia dibesarkan dalam keluarga yang sangat religius, di mana ayahnya, Ustaz Zeed Abdullah Basalamah, adalah pendiri Masjid dan Pondok Pesantren Addaraen. Kehidupan masa kecilnya penuh ujian setelah ibu kandungnya meninggal saat ia berusia empat tahun.

Sejak kecil, Khalid telah dididik secara agama. Setelah sempat mengenyam pendidikan di pondok pesantren di Makassar, ia melanjutkan pendidikan menengah hingga perkuliahan di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Kembali ke Indonesia pada akhir 1990-an, Khalid mulai berdakwah. Ia sempat mengajar di Universitas Muslim Indonesia, tetapi kemudian memilih untuk berfokus pada dakwah dan khotbah Jumat. Popularitasnya mulai meningkat berkat kelas hadis yang ia tawarkan secara gratis kepada jemaah.

Khalid dikenal mahir memanfaatkan media kontemporer, termasuk platform digital seperti YouTube, untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Melalui platform ini, ia menyampaikan dakwah dengan bahasa yang lugas dan sederhana. Tidak mengherankan, pada tahun 2017 ia menerima penghargaan “Ulama dan Dai Kehormatan” di forum ulama internasional.

Selain dunia dakwah, Khalid juga seorang pebisnis. Ia membangun PT Ajwad, sebuah perusahaan yang mengelola restoran khas Timur Tengah dengan aturan ketat.

Selain itu, ia juga memimpin Yayasan Ats-Tsabat di Jakarta Timur yang fokus pada program sosial seperti beasiswa, penyediaan air bersih, dan kendaraan dakwah. Ia juga dikenal produktif menulis buku, salah satunya berjudul Palestina yang Terlupakan yang diterbitkan pada tahun 2018.

Perjalanan dakwah Khalid tidak lepas dari kontroversi. Pada tahun 2017, pengajiannya di Sidoarjo sempat dibubarkan oleh GP Ansor dan Banser NU karena dianggap tidak sesuai dengan tradisi keagamaan lokal. Peristiwa ini memicu perdebatan publik, membagi masyarakat menjadi pihak yang menentang dan mendukung haknya untuk berdakwah.Gaya dakwahnya yang dianggap kaku oleh beberapa kelompok justru menarik bagi generasi muda yang sedang mencari jalan hijrah.

Pada Juni 2025, KPK kembali memanggil Khalid Basalamah, kali ini sebagai saksi ahli dalam investigasi dugaan penyimpangan kuota haji 2024. Kasus ini melibatkan pembagian tambahan 20.000 jemaah. Kehadiran Khalid dianggap penting untuk membantu penyidik memahami tata kelola ibadah haji dan prosedur yang berlaku.

Meskipun statusnya bukan tersangka, kasus ini telah kembali menyorotnya di mata publik. Bagi sebagian orang, pemeriksaan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai hubungan antara ulama dan birokrasi haji, sementara bagi pengikutnya, Khalid tetap dipandang sebagai sosok yang jujur dan berdedikasi.

Pewarta: Rizqi Juned
Editor: Dimas A Putra