Jakarta, GPriorit.co.id – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia mengalami masalah pada gigi.
Temuan ini didapat dari hasil pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CGK) selama satu tahun pemerintahannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“43 juta orang sudah menggunakan program cek kesehatan gratis. Ini saya kira program pertama kali juga di sejarah republik kita. Supaya nanti biaya pengobatan lebih kurang kalau kita tahu dari dini kekurangan penyakit rakyat kita,” kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna sebagaimana disiarkan dalam YouTube Sekretariat Presiden, Senin (20/10).
“Walaupun ini juga membuat suatu PR yang sangat besar bagi kita. Karena ternyata hasil cek kesehatan gratis ini sebagian besar rakyat kita punya masalah di gigi, di penyakit gigi,” tambahnya.
Prabowo menilai, temuan ini menjadi tanda bahwa Indonesia perlu menambah jumlah dokter gigi, padahal saat ini jumlah dokter umum dan dokter spesialis pun masih kurang.
“Artinya bahwa sekarang kita harus menghasilkan dokter gigi yang cukup banyak. Padahal kita tahu dokter umum saja kita kekurangan. Kekurangan kita sangat besar. Kalau tidak salah kekurangan kita di atas 140 ribu dokter. Kita juga kekurangan spesialis. Juga ribuan spesialis yang kita kurang,” jelasnya.
Prabowo menilai kekurangan tenaga medis bukan hanya masalah Indonesia, tetapi juga dialami banyak negara di dunia.
“Ini PR dan ini tidak hanya kita. Hampir semua negara yang saya kunjungi, saya minta pendapat pemerintah-pemerintah, hampir semuanya menganggap bahwa mereka kurang dokter,” tutur Prabowo.
Ia menambahkan, negara-negara kaya biasanya mampu menarik tenaga medis terbaik dari negara berkembang dengan imbalan besar. Namun Indonesia belum bisa melakukan hal serupa karena keterbatasan anggaran.
Sebagai solusi, Prabowo berkomitmen menyesuaikan kebijakan pendidikan nasional dengan menambah fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi serta memperluas pemberian beasiswa untuk mahasiswa kedokteran.
“Artinya kebijakan pendidikan kita harus kita sesuaikan. Berarti kita harus menambah fakultas-fakultas kedokteran. Dan fakultas kedokteran yang ada
pun harus ditambah jumlah mahasiswanya. Dan ini kalau perlu kita tambah beasiswa. Mungkin LPDP prioritasnya antara lain yang paling atas adalah untuk kedokteran,” pungkas Prabowo.
Sebagai informasi, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan 57 persen penduduk usia di atas tiga tahun mengalami masalah gigi, namun hanya 11,2 persen atau sekitar 3 juta orang yang mencari pengobatan.
Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
“Kalau sakit gigi hilang dengan obat pereda nyeri, biasanya masyarakat tidak melanjutkan ke pengobatan. Padahal masalah giginya tidak selesai,” kata Nadia dalam Media Briefing Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional, Kamis (11/9) lalu.
Menurut Nadia, kasus karies, gigi berlubang, gigi tanggal, hingga radang gusi masih mendominasi. Dia menilai, rendahnya literasi kesehatan gigi memperparah kondisi ini. Mayoritas masyarakat menyikat gigi pada pagi hari saat mandi dan malam sebelum tidur, padahal yang dianjurkan adalah setelah makan.
“Selain waktunya tidak tepat, cara menyikat gigi juga sering terlalu singkat, hanya sekitar satu menit, sehingga kurang efektif. Padahal kesehatan gigi yang buruk bisa berdampak pada organ vital, termasuk jantung. Pada ibu hamil, infeksi gigi bahkan berisiko membahayakan janin,” tuturnya.
