Sasar 1.408 Siswa, Ini Alasan BGN Ingin Salurkan MBG di Arab Saudi

Kepala BGN (Badan Gizi Nasional), Dadan Hindayana/Foto : Dok. BGN Kepala BGN (Badan Gizi Nasional), Dadan Hindayana/Foto : Dok. BGN

Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah Indonesia melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke Arab Saudi.

Rencana tersebut muncul setelah kunjungan Kepala BGN, Dadan Hindayana, ke Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), yang mayoritas siswanya merupakan anak pekerja migran Indonesia.

Menurut Dadan, banyak siswa di SIJ berharap dapat merasakan manfaat program MBG seperti yang sudah diterima jutaan pelajar di Indonesia.

Karena itu, BGN mempertimbangkan pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jeddah sebagai proyek percontohan pertama MBG di luar negeri. Namun, usulan tersebut masih menunggu persetujuan Presiden dan pembahasan lintas kementerian terkait.

“Kemarin kami ke Jeddah dan anak-anak di Sekolah Indonesia Jeddah bertanya kapan mereka mendapatkan Makan Bergizi Gratis. Karena itu kami berpikir mungkin sudah saatnya ada SPPG di luar negeri,” kata Dadan dalam keterangannya, dikutip dari ANTARA.

Dari sisi jumlah penerima manfaat, BGN mencatat sekitar 1.408 siswa Indonesia di Jeddah dan Makkah berpotensi menjadi sasaran program MBG.

Sementara itu, Sekolah Indonesia Jeddah sendiri menampung sekitar 1.080 hingga 1.081 siswa, yang sebagian besar merupakan anak pekerja migran Indonesia.

Rencana ekspansi ini didasari pertimbangan bahwa anak-anak Indonesia yang tinggal di luar negeri tetap merupakan warga negara yang berhak mendapatkan perhatian negara, khususnya dalam pemenuhan gizi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Selain itu, pemerintah melihat peluang menjadikan Arab Saudi sebagai model pelaksanaan MBG bagi komunitas pekerja migran Indonesia di negara lain.

Terkait kualitas makanan yang akan disajikan, BGN memastikan menu MBG di Arab Saudi tidak akan berbeda dari standar gizi yang diterapkan di Indonesia. Namun, komposisi makanan akan disesuaikan dengan ketersediaan bahan pangan lokal.

BGN berencana mengombinasikan makanan khas Indonesia dan Arab Saudi agar tetap memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus sesuai dengan selera siswa.

Secara umum, kualitas makanan di Arab Saudi dikenal cukup baik karena negara tersebut memiliki standar keamanan pangan yang ketat dan bergantung pada rantai pasok internasional untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan.

Ketersediaan daging ayam, sapi, ikan, susu, kurma, sayuran, dan buah-buahan relatif melimpah, sehingga mendukung penyusunan menu bergizi seimbang bagi para siswa.

Dengan dukungan bahan pangan lokal dan pengawasan BGN, pemerintah berharap kualitas MBG di Arab Saudi dapat memenuhi standar yang sama dengan program di Indonesia.