Cheap & Clean Energy Now, Dari Suara Publik Menuju Kebijakan Energi Bersih

Seminar “Cheap & Clean Energy Now: Dari Persepsi ke Aksi, Dari Suara ke Kebijakan” yang diselenggarakan oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) di Grha Pertamina, Tower Pertamax, Jakarta, Selasa (2/6)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Seminar “Cheap & Clean Energy Now: Dari Persepsi ke Aksi, Dari Suara ke Kebijakan” yang diselenggarakan oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) di Grha Pertamina, Tower Pertamax, Jakarta, Selasa (2/6)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Upaya mempercepat transisi energi nasional membutuhkan lebih dari sekadar teknologi dan investasi. Selain itu, dibutuhkan pula ruang dialog yang mampu menjembatani persepsi publik dengan kebijakan yang diambil pemerintah.

Semangat itu menjadi fokus seminar bertajuk “Cheap & Clean Energy Now: Dari Persepsi ke Aksi, Dari Suara ke Kebijakan” yang diselenggarakan oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) di Grha Pertamina, Tower Pertamax, Jakarta, Selasa (2/6).

Forum ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan sektor energi, termasuk Norman Ginting selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) serta Satya Widya Yudha, anggota pemangku kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN).

Dalam paparannya, Norman Ginting menekankan bahwa percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) harus menjadi fondasi utama dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Menurutnya, transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru melalui penciptaan lapangan kerja hijau dan penguatan industri nasional.

Ia menegaskan bahwa METI akan terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong transisi energi yang terarah dan berdampak nyata.

Norman juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk mempercepat implementasi berbagai proyek energi bersih, mulai dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), bioetanol E20, Sustainable Aviation Fuel (SAF), panas bumi, biomassa, hingga teknologi waste to energy.

Menurutnya, pengembangan sektor-sektor tersebut menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.

Sementara itu, Satya Widya Yudha menekankan pentingnya sinkronisasi antara aspirasi masyarakat, kebutuhan industri, dan arah kebijakan pemerintah dalam mewujudkan sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, transisi energi hanya dapat berjalan efektif apabila seluruh pemangku kepentingan memiliki visi yang sama mengenai pentingnya energi bersih yang terjangkau dan dapat diakses oleh masyarakat luas.

Seminar ini menjadi wadah pertukaran gagasan antara regulator, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan langkah konkret menuju masa depan energi yang lebih bersih.

Tema “Dari Persepsi ke Aksi, Dari Suara ke Kebijakan” mencerminkan pentingnya menjadikan masukan publik sebagai bagian dari proses penyusunan kebijakan energi nasional.

Melalui forum ini, Pertamina NRE berharap diskusi mengenai energi bersih tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat mendorong percepatan transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah tantangan global yang terus berkembang.