Sebarkan Dakwah yang Ramah Bukan Penuh Amarah

LuwuTimur,Gpriority-Berdakwah yang baik bukanlah yang penuh amarah tetapi ramah. Hal inilah yang ditekankan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo),Siberkreasi dan Dyandra Promosindo di dalam Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital”  di Sulawesi pada 10 Juni 2021.

Untuk itulah di dalam acara yang dipusatkan di Luwu Timur ini mengangkat tema “ Dakwah yang ramah di media Sosial”. Adapun narasumber yang dihadirkan dalam webinar ini diantaranya pendiri Climate Institute, Putri Damayanti Potabuga; pegiat literasi dari KITA Bhinneka Tunggal Ika, Waode Surya Darma; penulis dari Yayasan Bakti, M Ghufran H Kordi; peneliti dari Balai Litbang Agama Kementerian Agama Makassar, Syamsurijal. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Pembicara pertama, Putri Damayanti, memberikan materi berjudul “Digital Skill: Cerdas Dakwah Digital”. Dalam paparannya, ia mengatakan teknologi ikut mengubah pola ritual dakwah dari yang semula hampir didominasi pertemuan langsung menjadi daring (online). Hanya saja, banyak materi dakwah di media digital yang cenderung keras, seperti mengangkat tema yang menyudutkan agama lain dan memancing isu berbau SARA. Tema dakwah yang keras ini pernah memuncak saat pemilihan presiden di mana dakwah malah disisipi dengan muatan politis. “Sebagai pengguna, kita juga harus berpikir kritis menerima isi dari dakwah online tersebut,” ujarnya.

Pembicara kedua, Waode Surya Darma menyampaikan tema “Digital Ethics: Bijak di Kolom Komen”. Dalam paparannya, ia menjelaskan kehadiran media sosial yang menimbulkan tantangan bagi keberagaman dan perdamaian mengingat banyaknya unggahan yang bisa memicu persoalan. Dia berharap pengguna media sosial bisa menahan diri sebelum membagi informasi. “Kita harus ingat, sebelum membagi informasi atau apapun, pertimbangkanlah apakah informasi benar. Bagaimana perasaan orang lain saat menerima informasi itu, apakah hal itu bisa menyakiti perasaan orang lain atau merusak kebangsaan,” ujarnya.

Pembicara ketiga, M. Ghufran H. Kordi, memberikan materi berjudul “Digital Culture: Literasi dan Berdakwah di Dunia Digital”. Ia mengatakan, konten di dunia maya banyak yang rentan terhadap isu menghina agama.  Padahal, konten di media sosial seharusnya bisa lebih menyebarkan kebaikan, seperti toleran terhadap perbedaan dan tidak menyebar fitnah. Untuk menekan semakin banyaknya konten negatif berbau agama, Ghufran menekankan perlu digalakkan dakwah di media sosial yang menghargai perbedaan pendapat, mencerahkan, memanusiakan, mencegah umat melakukan tindakan yang merugikan, dan menjawab masalah umat.

Pembicara terakhir, Syamsurijal, memaparkan materi berjudul “Cyber Safety: Tip dan Pentingnya Internet Sehat”. Dia mengatakan, pemahaman dan nalar keagamaan serta cara kita beragama saat ini banyak dipengaruhi oleh diskursus media daring. Untuk menekan konten negatif berbau agama di media daring, Syamsurijal menuturkan perlu diperbanyak konten dakwah yang ramah. Langkah lain bisa ditempuh dengan memproduksi program dakwah yang moderat, serta mendorong dan mendampingi ulama yang moderat untuk berdakwah di media daring.

Setelah pemaparan materi oleh keempat narasumber, kegiatan Literasi Digital dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Sejumlah pertanyaan disampaikan peserta yang hadir secara daring diantaranya bagaimana cara menegur oknum yang berdakwah di media sosial tapi menyebarkan hal-hal negatif. Penanya juga berkesempatan mendapatkan uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000.

Kegiatan Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi diselenggarakan secara virtual mulai bulan Mei hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi informatif yang pastinya disampaikan oleh para narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https:www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(Hs.Foto.dok.Dyandra Promosindo)

 

Related posts