Jakarta, GPriority.co.id – Setelah Jawa Barat dan Banten, Jawa Timur adalah provinsi dengan jumlah pondok pesantren terbanyak ketiga di Indonesia. Beberapa pondok pesantren di Jawa Timur juga memiliki reputasi yang baik di dalam dan luar negeri.
Salah satunya adalah Pondok Pesantren Lirboyo. Ini adalah salah satu pondok pesantren terbesar di Jawa Timur, dengan alumninya yang tersebar di seluruh dunia. Pondok ini berlokasi di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.
Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo didirikan oleh KH Abdul Karim pada tahun 1900-an. Ponpes ini memiliki lima belas lembaga pendidikan dengan berbagai konsentrasi, seperti pondok pesantren yang ditujukan untuk penghafal Al-Qur’an atau santri salaf.
Menurut situs web resmi Pondok Pesantren Lirboyo, pendirinya, KH Abdul Karim, lahir pada tahun 1856 di Magelang, Jawa Tengah. Beliau kemudian pindah dan menetap di sana.
KH Abdul Karim, putra Kiai Abdur Rahim dan Nyai Salamah, sering berkelana ke berbagai tempat untuk menuntut ilmu agama sejak usia 14 tahun.
KH Abdul Karim pernah menimba ilmu di beberapa pesantren, termasuk Pesantren Trayang Kertosono, Pesantren Sono Sidoarjo, dan Pesantren Kedungdoro Surabaya. Beliau juga belajar dari Syaikhona Kholil Bangkalan selama lebih dari 23 tahun.
Pada usia 40 tahun, KH Abdul Karim kembali belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang diasuh oleh KH Hasyim Asy’ari.
Pada tahun 1908, KH Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah, putri Kiai Sholeh dari Banjarmlati, Kediri. Mereka kemudian pindah ke Desa Lirboyo pada tahun 1910. Peristiwa ini menjadi awal berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo.
Saat berada di Lirboyo, KH Abdul Karim membangun sebuah surau atau musala untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Dimulai dengan seorang santri bernama Umar dari Madiun, santri KH Abdul Karim kemudian terus bertambah.
Pada tahun 1913, KH Abdul Karim secara resmi mendirikan pondok pesantren untuk mengajarkan dan menyebarkan agama Islam. Beliau juga membangun sebuah masjid di area pondok. Karena jumlah lawang (pintu) masjidnya berjumlah sembilan, hingga saat ini masjid tersebut masih dikenal sebagai Masjid Lawang Songo.
Pondok Pesantren Lirboyo juga turut serta dalam perjuangan kemerdekaan dengan mengirimkan santrinya ke medan perang, seperti yang terjadi di Surabaya pada 10 November 1945.
Pondok Pesantren Lirboyo kini memiliki beberapa cabang yang tidak hanya berbasis di Jawa Timur, seperti Lirboyo Majalengka, Demak, hingga Lirboyo Lampung. Lirboyo sendiri juga menawarkan dua sistem pendidikan, yaitu: tradisional, yang berbasis pada pengajian kitab dan bahtsul masail (diskusi masalah keagamaan). Pengajian kitab sangat dianjurkan sebagai bekal tambahan keilmuan santri. Sementara itu, sistem klasikal merupakan sistem pendidikan reguler yang digunakan pada sekolah-sekolah umum.
Pewarta: Rizqi Juned
Editor: Dimas A Putra
