Sudah Teruji di 9 Negara, Simak 4 Fakta Nyamuk Wolbachia

Penulis : Dimas A Putra | Editor : Lina F | Foto : Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Tengah ramai diperbincangkan publik mengenai keberadaan nyamuk wolbachia. Bahkan beredar berita hoaks mengenai nyamuk ini membawa virus LGBT yang ternyata keliru.

Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad tergabung dalam riset Wolbachia selama lebih dari 10 tahun, memastikan tidak ada rekayasa genetik baik terhadap bakterinya maupun terhadap nyamuknya, dikutip dari Kompas.

Dalam pengertiannya, Wolbachia merupakan bakteri yang bisa hidup hanya di dalam tubuh serangga, salah satunya adalah nyamuk. Bahkan, bakteri ini telah ditemukan secara alami di dalam tubuh nyamuk Aedes albopictus.

Lebih dari itu, nyamuk yang disebar di beberapa wilayah Indonesia ini ternyata terdapat fakta menarik didalamnya, berikut ulasannya dilansir rri.co.id.

  1. Diteliti Sejak Tahun 2011

Kemenkes mengungkapkan efektivitas wolbachia telah diteliti sejak 2011, dilakukan oleh World Mosquito Program (WMP) di Yogyakarta dukungan filantropi yayasan Tahija. Penelitian dilakukan melaui fase persiapan dan pelepasan aedes aegypti berwolbachia dalam skala terbatas (tahun 2011-2015).

Sebelumnya uji coba penyebaran nyamuk Wolbachia telah dilakukan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada 2022. Hasilnya, di lokasi yang telah disebar Wolbachia terbukti mampu menekan kasus DBD.

Persentasenya hingga 77 persen, dan menurunkan proporsi dirawat di rumah sakit sebesar 86 persen. Untuk itu masyarakat diminta mencari tau kebenaran informasi yang akurat tentang Wolbachia.

  1. Mampu Lumpuhkan Virus DBD

Kemenkes juga menjelaskan, Wolbachia dapat melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk aedes aegypti. Sehingga virus dengue tidak akan menular ke dalam tubuh manusia.

Jika aedes aegypti jantan berwolbachia kawin dengan aedes aegypti betina, maka virus dengue pada nyamuk betina akan terblok. Selain itu, jika yang berwolbachia nyamuk betina kawin dengan nyamuk jantan yang tidak berwolbachia, maka seluruh telurnya akan mengandung wolbachia.

  1. Teruji di Sembilan Negara

Kemenkes mengungkapkan teknologi wolbachia turunkan DBD sudah terbukti di sembilan negara. Hal itu disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Siti Nadia Tarmizi.

Dirincinya, kesembilan negara itu diantaranya, Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Meksico, Kiribati, Kaledonia Baru, dan Sri Lanka. Diharapkan teknologi ini dapat segera diterapkan di Indonesia, mengingat musim DBD akan tiba.

  1. Tidak Ada Rekayasa Genetik Dalam Wolbachia

Wolbachia adalah bakteri yang hanya dapat hidup di dalam tubuh serangga, termasuk nyamuk. Wolbachia tidak dapat bertahan hidup di luar sel tubuh serangga dan tidak bisa mereplikasi diri tanpa bantuan serangga inangnya.

Ini merupakan sifat alami dari bakteri wolbachia. Wolbachia sendiri telah ditemukan di dalam tubuh nyamuk aedes albopictus secara alami.

Peneliti Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Adi Utarini mengatakan Bakteri wolbachia maupun nyamuk sebagai inangnya bukan organisme hasil dari modifikasi genetik yang dilakukan di laboratorium. “Secara materi genetik baik dari nyamuk maupun bakteri wolbachia yang digunakan, identik dengan organisme yang ditemukan di alam,” kata dia.

Ia mengatakan, wolbachia secara alami terdapat pada lebih dari 50 persen serangga. Wolbachia mempunyai sifat sebagai simbion (tidak berdampak negatif) pada inangnya.

Di Indonesia sendiri, teknologi wolbachia yang digunakan, diimplementasikan dengan metode “penggantian”. “Dimana baik nyamuk jantan dan nyamuk betina wolbachia dilepaskan ke populasi alami,” katanya.

Tujuannya agar nyamuk betina kawin dengan nyamuk setempat dan menghasilkan anak-anak nyamuk yang mengandung wolbachia. Pada akhirnya, hampir seluruh nyamuk di populasi alami akan memiliki wolbachia.