Washington DC, Gpriority.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendapatkan Penghargaan Perdamaian FIFA atau FIFA Peace Prize pertama dalam sejarah. Tagar #FIFAShame trending global sebagai jawaban atas pemberian penghargaan tersebut.
FIFA mengganjar Donald Trump dengan medali Penghargaan Perdamaian FIFA atau FIFA Peace Prize yang pertama kali diadakan dalam acara pengundian Piala Dunia 2026 di Kennedy Center, Washington DC, Sabtu (6/12). Penghargaan tersebut langsung menuai kontroversi karena dinilai dibuat khusus untuk memuji dirinya.
Tagar #FIFASHAME lantas muncul sebagai bentuk protes dan kecaman publik di media sosial terhadap FIFA terkait pemberian medali perdamaian kepada Donald Trump pada akhir 2025. Banyak pengguna merasa FIFA telah kehilangan netralitas dengan memberi penghargaan kepada tokoh yang kontroversial dan dianggap bertolak belakang dengan nilai perdamaian, mengingat rekam jejak kebijakan Trump yang dinilai memecah belah dan menyuburkan konflik.
Tagar ini jadi trending karena berbagai kelompok aktivis HAM, politikus, pengamat olahraga, dan komunitas sepak bola menilai FIFA seolah abaikan isu HAM serius di dunia, terutama konflik di Palestina dan kebijakan Trump yang represif. #FIFASHAME menjadi simbol kritik keras bahwa FIFA salah sasaran dalam memilih penerima penghargaan, sehingga merusak reputasi dan tujuan olahraga untuk menyatukan bangsa dan membangun kedamaian.
Human Rights Watch (HRW) bahkan menyebut pemberian medali ini absurd mengingat rekam jejak “mengerikan” hak asasi manusia pemerintahan Trump. Mereka menyoroti kebijakan imigrasi yang “menargetkan, menahan, dan menghilangkan” imigran, termasuk deploy National Guard di kota-kota Piala Dunia 2026.
Sementara Amnesty International (Organisasi HAM Global) mengungkapkan pemberian medali ini “ironis dan kontradiktif” dengan misi FIFA. Mereka mengkritik Trump atas kebijakan “zero tolerance” imigrasi yang sebabkan pemisahan keluarga dan penahanan anak-anak, serta dukungannya terhadap senjata di konflik Timur Tengah. “FIFA seharusnya promosikan perdamaian nyata, bukan beri penghargaan ke pemimpin yang abaikan hak asasi,” tulis laporan mereka.
CodePink (Kelompok Anti-Perang) malah protes langsung di Washington DC, serta menyebut Trump pemicu eskalasi perang di Venezuela, melindungi serangan Israel ke Palestina, dan “terrorisasi komunitas” via ICE dan National Guard. Mereka menganggap medali ini “palsu” dan tidak layak untuk “pembuat perang” seperti Trump.
Adapun Craig Mokhiber (Mantan Pejabat PBB dan Aktivis HAM) yang kerap kampanye untuk sanksi terhadap Israel soal Gaza, menegaskan ini “perkembangan memalukan” FIFA. Ia mengkritik Presiden FIFA, Gianlugi Infantino dan FIFA tutup mata atas “genosida di Palestina” selama dua tahun, lalu beri “hadiah perdamaian baru” untuk “menjilat” Trump. Menurutnya, ini menutupi rekam jejak Trump yang mendukung Israel, serangan udara mematikan di Karibia, dan pelanggaran HAM di AS.
Foto : FIFA
