Tari Tradisional Ja’i NTT, Warisan Budaya Tak Benda 2021

Tari Ja’i merupakan tarian tradisional masyarakat Ngada di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan juga kegembiraan, memiliki nilai-nilai kehidupan masyarakat yang sangat penting.

Tari ini biasanya dilakukan secara masal oleh masyarakat Ngada, ditampilkan dalam berbagai acara seperti perayaan, upacara adat, atau menyambut tamu kehormatan. Semakin banyak peserta yang mengikuti tarian tersebut maka akan semakin hikmat.

Para penari akan diiringi oleh irama musik gong dan gendang yang disebut dengan Labago, dengan mengenakan baju tradisional yang lengkap. Untuk laki-laki biasanya terdiri dari boku, mara ngia, sapu, lu’e, keru, legajara, dhegho dan sau. Sedangkan untuk perempuan mengenakan luamanu, lawo, mara ngia, dhegho, lega jara, kasa sese, keru, dan butu.

Pada Jum,at (29/10/21) kemarin, Tarian Ja’i ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda atau Intangible Culture Heritage tahun 2021 dari 28 Provinsi, oleh Sekretariat Warisan Budaya Tak Benda Kemendikbud. Sebuah pengakuan bahwa tarian Ja’i memang benar-benar tarian tradisional masyarakat Ngada.

Menurut Kemdikbud, warisan budaya tak benda adalah segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan serta alat-alat, benda (alamiah), artefak, dan ruang-ruang budaya terkait dengannya, yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok, dan dalam hal tertentu perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

Warisan budaya tak benda meliputi tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa, seni pertunjukan, adat-istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. Selain itu, juga pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenal alam dan semesta serta kemahiran kerajinan tradisional. (Dw.foto.dok. KI Komunal DJKI)

Related posts