Tegas! Iran Terapkan Aturan Baru Transit Kapal di Selat Hormuz

Ilustrasi kapal yang melintasi Selat Hormuz/Foto : Dok. AFP Ilustrasi kapal yang melintasi Selat Hormuz/Foto : Dok. AFP

Iran, GPriority.co.id – Pemerintah Iran resmi memperkenalkan mekanisme baru yang mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

Kebijakan tersebut diumumkan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terkait keamanan kawasan Teluk Persia.

Menurut laporan media pemerintah Iran, Press TV, kapal-kapal yang akan melintasi Selat Hormuz kini diwajibkan mengikuti prosedur baru sebelum memperoleh izin pelayaran.

Dalam aturan tersebut, kapal akan menerima surat elektronik dari otoritas terkait Iran yang berisi ketentuan transit dan tata cara pelayaran yang harus dipatuhi.

Berdasarkan mekanisme baru itu, setiap kapal diwajibkan menyesuaikan operasinya dengan aturan yang ditetapkan sebelum mendapatkan izin untuk melintas di selat tersebut. Iran menyebut sistem itu sebagai bagian dari “tata kelola berdaulat” terhadap jalur perairan yang berada di kawasan strategis negara tersebut.

Langkah Iran tersebut dinilai sebagai bentuk pengetatan kontrol terhadap aktivitas maritim di Selat Hormuz. Jalur itu diketahui menjadi salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi global karena dilalui pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Timur Tengah menuju pasar internasional.

Press TV melaporkan bahwa kebijakan baru itu muncul setelah meningkatnya ketegangan regional menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, Teheran mulai memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Dalam pernyataan terbaru pejabat Iran disebutkan bahwa seluruh kapal harus mengikuti rute pelayaran yang telah ditentukan serta memperoleh izin resmi sebelum memasuki Selat Hormuz. Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa aturan tersebut berlaku bagi seluruh kapal yang melintas tanpa pengecualian.

Di sisi lain, Amerika Serikat terus meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk untuk mendukung keamanan pelayaran komersial. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Washington akan mengawal kapal-kapal yang keluar dari Selat Hormuz melalui operasi yang disebut “Project Freedom”.

Menanggapi hal tersebut, Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran memperingatkan bahwa “setiap angkatan bersenjata asing, khususnya militer agresif AS, akan diserang jika berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz.” Pernyataan itu disiarkan kantor berita resmi Iran, IRNA, dan menunjukkan meningkatnya tensi di kawasan tersebut.

Selain memperketat aturan transit, parlemen Iran juga dilaporkan sedang membahas rancangan legislasi baru terkait pembatasan terhadap kapal yang berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat.

Rancangan aturan itu juga mencakup kemungkinan penerapan tarif bagi kapal-kapal asing tertentu yang dianggap tidak bermusuhan dengan Iran.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap harinya, menjadikannya salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Gangguan terhadap arus kapal di wilayah itu dapat berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan energi global dan harga minyak internasional.