Utah, Gpriority.co.id – Pasca terbunuhnya Charlie Kirk, aktivis sayap kanan Amerika sekaligus pendukung Presiden Trump, sentimen publik Amerika dan Inggris justru menyasar kepada dunia Islam. Padahal pelaku pembunuhan, Tyler Robinson diketahui pria kulit putih asli Amerika.
Di Inggris, demontrasi memperingati kematian Charlie Kirk justru dinodai dengan merobek-robek bendera Palestina dan bendera kalimat tauhid. Demontrasi digalang oleh Tommy Robinson ini berlangsung di pusat kota London dengan melibatkan aktivis sayap kanan Inggris. Robinson yang bernama asli Stephen Yaxley-Lennon ini memang banyak didukung oleh pria kulit putih yang selama ini kerap berkampanye menentang Islam dan imigrasi.
Sementara di Amerika, Shayk Uthman Ibn Farooq, pendakwah jalanan yang kerap membagikan aktivitasnya di media sosial juga mendapatkan ancaman pembunuhan. Dalam akun Facebooknya, pendakwah keturunan Afghanistan ini menyebut jika ia telah mendapatkan ancaman pembunuhan sesaat Charlie Kirk tewas ditembak.
“Orang-orang sudah mulai mengancamku dengan ancaman kematian dan menyalahkan muslim serta menyerukan agar negara-negara muslim di bom. Saat itu, mereka bahkan tidak tahu siapa penembaknya,” ujarnya.
Belakangan diketahui jika pelaku pembunuh Charlie Kirk ialah Tyler Robinson, anak muda berusia 22 tahun asli Utah. Tyler Robinson yang sejak kecil belajar menggunakan senjata api diketahui sebelumnya adalah pendukung Presiden Trump. Namun belakangan ia mulai berseberangan dan menjadi anti Fasis. Saat mendengar Charlie Kirk akan berkunjung ke Utah ia pun menunggu kesempatan itu dengan senapan jenis bolt action-nya.
Spencer Cox, Gubernur Utah sempat kecewa dengan kenyataan jika warganya menjadi pembunuh Charlie Kirk. Dalam konferensi pers-nya Cox menyebut jika ia berdoa sebelumnya berharap pelakunya bukan salah satu dari ‘kita’ (kulit putih dan warga Utah). “Seseorang pengemudi dari negara bagian lain, seorang yang datang dari negara lain. Sayangnya, doa itu tidak dikabulkan dengan cara yang kuharapkan,” ujarnya didampingi Direktur FBI Kash Patel yang notabene pria keturunan India.
Patel sendiri menerangkan jika FBI sebelumnya sempat mengamankan Zachariah Ahmed Qureshi, pria berusia 25 tahun yang dicurigai dalam pembunuhan Charlie Kirk. FBI kemudian membebaskannya setelah tidak menemukan bukti jika Zachariah terlibat dalam tewasnya Kirk. Nama Zachariah sempat muncul di platform X dan menyertakan foto serta domisilinya. Namun pihak berwenang telah memberikan jaminan keamanan kepada keluarganya.
Sentimen terhadap Islam dalam kematian Kirk tampaknya juga didorong oleh statemen Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancaranya dengan Fox. Netanyahu yang berbicara tentang kematian Kirk mengatakan jika orang-orang ekstrem, kaum Islamis adalah masalah dunia. “Kaum Islamis radikal dan persatuan mereka dengan kaum ultra-progresif, mereka sering berbicara tentang hak asasi manusia. Mereka berbicara tentang kebebasan berbicara. Tetapi mereka menggunakan kekerasan untuk mencoba menjatuhkan musuh-musuh mereka,” ucapnya.
Pernyataan ini kemudian digeruduk oleh netizen dari penjuru dunia setelah dipatikan pembunuh Kirk adalah Tyler Robinson. Frasa bukan muslim, bukan imigran, bukan kulit hitam, bukan transgender dan bukan Demokrat sebagai pelaku pembunuhan Kirk pun mengemuka dan menyerang Netanyahu.
Foto : Istimewa
