Usai Tangkap Maduro, Trump Beri Peringatan: Kuba Siap Jatuh!

Presiden AS Donald Trump merasa tak terima dengan pernyataan Iran soal tawaran perdamaian/Foto : Dok. The Australian Presiden AS Donald Trump merasa tak terima dengan pernyataan Iran soal tawaran perdamaian/Foto : Dok. The Australian

Amerika Serikat, GPriority.co.id – Setelah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, bersama dengan istrinya, Presiden AS (Amerika Serikat) Donald Trump, memberikan peringatakan dengan menyebut bahwa Kuba siap jatuh pada Minggu (4/1) kemarin.

Sebagaimana dilansir dari WIO News pada Senin (5/1), Trump menambahkan bahwa banyak warga Kuba yang tewas selama operasi AS untuk menangkap pemimpin Venezuela tersebut.

“Kuba siap jatuh. Saya rasa kita tidak perlu tindakan apa pun. Sepertinya situasinya akan membaik,” kata Trump kepada wartawan di Air Force.

Sementara itu, pihak berwenang Havana mengatakan bahwa 32 warga Kuba tewas selama serangan AS di Caracas yang mengakibatkan penangkapan Maduro.

Dalam sebuah pernyataan, pemerintah Kuba menyebut operasi AS di Venezuela sebagai “serangan kriminal”.

“Sebagai akibat dari serangan kriminal yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap Venezuela, 32 warga Kuba kehilangan nyawa dalam operasi tempur,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Para korban tewas adalah anggota Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba atau Kementerian Dalam Negeri yang sedang menjalankan misi “atas permintaan lembaga-lembaga terkait,” kata para pejabat Kuba.

Sebagai informasi, dua hari masa berkabung nasional diumumkan di Kuba mulai Senin (5/1) pagi. Havana juga berjanji untuk menyelenggarakan penghormatan. Sementara Presiden Kuba menyebut pasukan AS sebagai “teroris berseragam imperialis.”

“Hormat dan kemuliaan bagi para pejuang Kuba pemberani yang gugur menghadapi teroris berseragam kekaisaran,” tulis Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel Bermúdez pada X.

Dalam operasi yang diberi nama ‘Operasi Absolute Resolve’, pasukan Amerika memasuki Venezuela, membom Caracas dan menangkap pemimpin Venezuela dan istrinya, Cilia Flores, dari istana kepresidenan mereka di bawah arahan Presiden Trump.

Maduro diterbangkan ke USS Iwo Jima, kemudian ke Teluk Guantánamo, dan akhirnya dengan pesawat pemerintah ke Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di New York. Dia ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan Brooklyn yang terkenal kejam, dan menghadapi tuduhan terorisme narkoba. Ia pun dijadwalkan hadir di pengadilan federal Manhattan pada hari ini.