Viral! Majelis Taklim Digelar di Rel Kereta Aktif, Emang Boleh?

Sekelompok warga menggelar pengajian atau majelis taklim di area perlintasan kereta api. Foto: Instagram/kodilpanjaloe Sekelompok warga menggelar pengajian atau majelis taklim di area perlintasan kereta api. Foto: Instagram/kodilpanjaloe

Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah video memperlihatkan sekelompok warga menggelar pengajian atau majelis taklim di area perlintasan kereta api. Aksi tersebut menuai kecaman luas karena dinilai membahayakan keselamatan para jamaah.

Dalam video yang beredar, tampak puluhan orang berdiri dan berkumpul di sekitar rel. Bahkan, beberapa di antaranya terlihat berada tepat di atas bantalan rel yang diduga masih aktif dilintasi kereta api.

Hingga saat ini, lokasi pasti kejadian belum dapat dipastikan. Namun, publik menyoroti keras keputusan penyelenggara yang memilih tempat berisiko tinggi untuk kegiatan keagamaan tersebut.

Fenomena ini pun memicu perdebatan di berbagai platform media sosial. Banyak warganet menilai tindakan tersebut tidak hanya berbahaya, tetapi juga melanggar aturan hukum yang berlaku.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat dikenai sanksi pidana berupa penjara hingga denda jutaan rupiah.

Selain aspek hukum, risiko kecelakaan juga menjadi perhatian utama. Kereta api memiliki jarak pengereman yang panjang sehingga tidak dapat berhenti secara mendadak. Kondisi ini membuat kerumunan di jalur aktif sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan massal apabila terjadi situasi darurat.

Sementara itu, meski belum memberikan pernyataan khusus terkait video tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) selama ini secara konsisten mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di sekitar jalur rel.

Dalam pernyataannya, jalur kereta api bukan tempat bermain, bersosialisasi, apalagi tempat berkumpul secara massal. Ruang manfaat jalan kereta api hanya diperuntukkan bagi operasional kereta.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih lokasi kegiatan, terutama yang melibatkan banyak orang, demi menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.