Jakarta, GPriority.co.id – Selain ziarah kubur, Munggahan juga menjadi tradisi yang melekat di Indonesia jelang bulan Ramadan.
Munggahan atau Ruwahan merupakan tradisi berkumpul dan makan bersama keluarga besar. Tradisi ini juga dilaksanakan bersamaan dengan ziarah kubur.
Jika dilihat dari sisi sejarah, Munggahan merupakan tradisi hasil akulturasi dari budaya Jawa, Melayu, Palembang, dengan nilai-nilai Islam. Munggahan juga menjadi momen untuk mengirim doa kepada orang yang telah meninggal dunia, sekaligus untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan jelang melaksanakan ibadah puasa Ramadan.
Di samping itu, saat melaksanakan Munggahan juga dapat menjadi momen kita untuk bersedekah baik dengan keluarga, maupun orang-orang di sekitar kita.
Sebagaimana dilansir dari saluran YouTube Al-Bahjah TV pada Senin (16/2), Buya Yahya menjelaskan bahwa tradisi munggahan boleh dilakukan, namun dengan niat untuk bersilaturahmi.
“Untuk yang masih hidup, tradisi ini berfungsi menjalin silaturahim, saling bertukar makanan, dan menciptakan suasana indah yang sebaiknya tidak dihilangkan,” sebutnya.
Buya Yahya melanjutkan, tradisi Munggahan menjadi pembuka untuk memasuki bulan suci Ramadan. Sehingga hukumnya sah apabila dilaksanakan.
Kendati demikian, tradisi munggahan harus tetap dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam. Selain untuk mempererat silaturahmi dengan keluarga, munggahan juga menumbuhkan rasa syukur serta menciptakan suasana positif jelang datangnya bulan suci Ramadan.
Secara keseluruhan, munggahan menurut Buya Yahya menjadi tradisi budaya yang bukan hanya mengandung nilai positif, namun juga bermanfaat selama dijalankan sesuai koridor syariat Islam.
