14 Perusahaan BUMN dalam Kondisi Kritis, akan Dibubarkan?

Jakarta, gpriority.co.id – Menjelang berakhirnya masa jabatan Menteri BUMN, Erick Thohir, terdapat 14 perusahaan pelat merah yang tercatat dalam kondisi kritis, bahkan terancam dibubarkan.

Nasib ke-14 perusahaan tersebut saat ini masih terus dikaji oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, jika belasan perusahaan itu tidak dapat diselamatkan, Kementerian BUMN berencana melakukan penutupan kembali.

“Kan banyak di PPA, ada 14 perusahaan lagi yang kita kaji. Kalau misalnya tidak bisa diperbaiki, tidak bisa ditransformasi, kita akan menambah penutupan lagi,” ujar Tiko, dilansir pada Selasa (2/7).

Enam dari 14 perusahaan BUMN yang berpotensi diberhentikan melalui likuidasi atau pembubaran adalah PT Indah Karya (Persero), PT Dok Dan Perkapalan Surabaya (Persero), PT Amarta Karya (Persero), PT Barata Indonesia (Persero), PT Varuna Tirta Prakasya (Persero), dan PT Semen Kupang.

Sementara itu, terdapat empat BUMN lainnya yang masih berpeluang diselamatkan atau dilakukan penyehatan dan restrukturisasi, yaitu PT Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) atau Persero Batam, PT Industri Kapal Indonesia (Persero), PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero), dan PT Boma Bisma Indra (Persero) yang akan dialihkan (inbreng) kepada PT Danareksa (Persero).

Sedangkan sisanya, empat BUMN lainnya masih memerlukan penanganan lebih lanjut yaitu PT Industri Telekomunikasi Indonesia, PT Primissima (Persero), Perum Percetakan Negara RI, dan PT Djakarta Lloyd (Persero).

Sejak awal menjabat pada 2019 lalu, Erick telah melontarkan rencananya untuk mengurangi jumlah BUMN. Pada Juni 2020, Kementerian BUMN telah mengurangi jumlah entitasnya dari 142 perusahaan menjadi 107 perusahaan.

Hal tersebut diklaim dilakukan Erick sebagai bagian dari program restrukturisasi BUMN yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja BUMN.

Foto: Shutterstock/Abdurrahim Husain