Jakarta, GPriority.co.id – Ketua Umum Aliansi Jurnalis Indonesia (Ketum AJI), Nani Afrida, menyoroti kasus pembungkaman terhadap pers sepanjang tahun 2025.
Melalui agenda Annual Report 2025 LBH Pers, Nani mengaku berkali-kali telah berbicara dengan polisi terkait kasus-kasus yang berkaitan dengan pers. Sayangnya, ia menyebut, di tahun 2025 semakin banyak kekerasan yang menjadi bahan kekuasaan dan dinormalisasi. Begitupun dengan teror yang semakin masif terhadap pers.
“Di laporan ada 22 teror yang terjadi sepanjang 2025. Tandanya apa? kok kaya zaman dulu lagi kita kembali? zaman ketika semua orang ketika nggak suka itu diteror. Nah ini terornya banyak yang bersifat simbolik. Yang pakai kepala babi, yang pakai bangkai tikus,” ujar Nani pada Selasa (20/1).
Selain mengkhawatirkan kembalinya orde baru, Nani juga melihat adanya digitalisasi kekerasan. AJI sendiri menemukan ada 29 jurnalis yang mengalami kekerasan digital sepanjang 2025.
“Kita merasa ruang digital tidak netral. Sehingga negara gagal membangun keamanan digital. Kemudian kita juga melihat adanya kekerasan berlapis. Ini menunjukkan bahwa perlindungan pers masih maskulin dan netral semua,” jelasnya.
Lebih lanjut Nani menilai negara saat ini melihat pers sebagai risiko, hingga pengakuan resmi serangan terhadap pers sebagai pelanggaran.
“Ini kayanya tantangan buat kita semua. Bagaimana caranya semua orang paham bahwa jurnalis itu juga pekerjaan. Kayanya kita harus mendorong supaya semua orang tahu bahwa yang namanya jurnalis itu bagian daripada pembelaan,” tekannya.
