Makna Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng: Bukan Sekadar Perayaan!

Momen perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat/Foto : Dok. YouTube Sekedar Keliling Momen perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat/Foto : Dok. YouTube Sekedar Keliling

Jakarta, GPriority.co.id – Perayaan Lebaran Betawi 2026 resmi digelar selama tiga hari pada 10-12 April kemarin di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Lebaran Betawi 2026 bukan hanya sekadar perayaan, namun juga menjadi simbol kuat silaturahmi, pelestarian tradisi, hingga penguatan identitas budaya Betawi di tengah modernisasi ibu kota saat ini.

Laporan ANTARA menyebut, ribuan warga memadati kawasan Lapangan Banteng sejak hari pertama hingga puncak acara. Di Lebaran Betawi 2026, ada beragam kegiatan budaya, kuliner, hingga edukasi yang menjadi daya tarik utama dan mempertemukan masyarakat dari lintas latar belakang yang beragam.

Menurut Ketua Umum Bamus Betawi, Riano P. Ahmad, menegaskan bahwa esensi utama Lebaran Betawi bukan hanya seremonial tahunan, melainkan ruang mempererat hubungan sosial masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa Lebaran Betawi merupakan wadah untuk menyatukan silaturahmi antara warga Betawi dan seluruh masyarakat Jakarta, sehingga inti dari rangkaian kegiatan ini adalah memperkuat hubungan antarwarga.

Makna tersebut juga tercermin dalam berbagai prosesi budaya seperti palang pintu, hantaran, hingga pawai ondel-ondel yang sarat nilai kebersamaan dan penghormatan antar generasi.

Tidak hanya hiburan, Lebaran Betawi 2026 juga menghadirkan ruang edukasi budaya yang memperkenalkan sejarah dan kekayaan tradisi Betawi kepada masyarakat.

Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi seperti busana Betawi, perhiasan tradisional, hingga arsip Jakarta tempo dulu. Selain itu, seni pertunjukan seperti lenong, gambang kromong, dan wayang golek Betawi turut memperkaya pengalaman budaya.

Lebaran Betawi juga mencerminkan keberagaman budaya yang membentuk Jakarta. Tradisi Betawi sendiri merupakan hasil perpaduan berbagai budaya seperti Melayu, Arab, Tionghoa, hingga Eropa yang telah berakulturasi selama berabad-abad.

Dengan mengusung tema “Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global”, perayaan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan kota harus tetap berjalan seiring dengan pelestarian budaya lokal.