Wagub Krisantus Tantang “Cium Lutut” Dedi Mulyadi Jika Berhasil Bangun Kalbar dengan APBD Rp6 Triliun

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi/Foto Istimewa

Jawa Barat, GPriority.co.id – Wakil Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Krisantus Kurniawan, menantang Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk bertukar posisi dan membangun Kalimantan Barat dengan kemampuan APBD sebesar Rp6 triliun.

Tantangan tersebut muncul karena Krisantus merasa kepemimpinannya kerap dibandingkan dengan Dedi Mulyadi, khususnya dalam pembangunan infrastruktur jalan. Ia mengaku tidak terima jika gaya kepemimpinannya terus dibanding-bandingkan.

Menurut Krisantus, Kalimantan Barat tidak bisa disamakan dengan Jawa Barat. Jawa Barat memiliki luas sekitar 43.000 km² dengan APBD mencapai Rp31 triliun.  Sementara, Provinsi Kalimantan Barat memiliki luas 171.000 KM² atau 1,11 kali pulau Jawa, namun hanya didukung APBD sekitar Rp6 triliun.

Dengan kondisi tersebut, ia bahkan menyatakan akan “mencium lutut” Dedi Mulyadi jika mampu membangun Kalimantan Barat secara merata dengan anggaran tersebut.

“Ada yang mau pinjam Dedi Mulyadi 3 bulan. Suruh Dedi Mulyadi jadi Gubernur Kalimantan Barat. Ayo bertukar kita, saya mau lihat. Tapi pakai APBD Rp6 triliun bangun Kalimantan Barat. Ayo kalau dia bisa ku cium lututnya. Itu yang terjadi, dan tidak bisa dibandingkan. Kekuatan fiskal kita berbeda, luas kita berbeda,” tegas Kristantus dikutip dari Instagram Dedi Mulyadi, Senin (13/4).

Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi memberikan respons yang hangat. Ia mengucapkan terima kasih atas perhatian dan tantangan yang disampaikan.

“Terima kasih ya atas doanya yang mengalir dalam setiap waktu, sehingga saya bisa terus menjalankan aktivitas, memberikan fikiran, gagasan, melakukan inovasi-inovasi berdasarkan kemampuan yang kami miliki. Semoga bapak dan ibu semuanya dalam keadaan bahagia. Buat bapak wakil gubernur Kalimantan Barat, saya mengucapkan terima kasih atas tantangannya,” ucap Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi juga menyampaikan permohonan maaf jika program pembangunan di Jawa Barat menimbulkan perbandingan dengan daerah lain. Ia menegaskan tidak pernah bermaksud membandingkan.

Menurutnya, setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda, terutama dari sisi kemampuan fiskal dan luas wilayah. Ia memahami bahwa keterbatasan anggaran menjadi tantangan besar, khususnya bagi daerah yang luas seperti Kalimantan Barat.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk terus bekerja sama demi memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

“Saya juga memohon maaf apabila apa yang dilakukan di Jawa Barat menyinggung daerah lain. Mungkin kita bisa bersama-sama untuk terus melayani masyarakat dengan baik, dan semoga kedepan daerah-daerah tumbuh kemampuan fiskalnya sehingga dana bagi hasilnya bisa mengalir ke daerah penghasil. Untuk itu bagi kita bersama-sama terus melangkah memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat,” pungkasnya.