Jakarta, GPriority.co.id – Aksi suporter Jepang membersihkan tribun stadion usai pertandingan Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan dunia.
Setelah laga Jepang kontra Belanda yang berakhir imbang 2-2 di Dallas Stadium, Texas, para pendukung Samurai Biru terlihat mengumpulkan sampah dan membersihkan area tempat duduk mereka sebelum meninggalkan stadion.
Tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu menuai pujian global, tetapi kali ini juga memicu kritik dari sebagian pengguna internet.
Foto dan video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan ratusan fans Jepang membawa kantong sampah bertuliskan “Japan Pride” sambil memungut gelas, bungkus makanan, dan berbagai sampah lainnya yang tertinggal di tribun.
Aksi tersebut bahkan menarik perhatian mantan quarterback NFL, Jameis Winston, yang ikut membantu membersihkan stadion setelah pertandingan.
Tradisi membersihkan stadion oleh pendukung Jepang bukanlah hal baru. Kebiasaan itu telah menjadi ciri khas mereka sejak Piala Dunia 1998 dan terus dilakukan dalam berbagai turnamen internasional.
Menurut laporan Associated Press, budaya tersebut berakar dari sistem pendidikan Jepang yang mengajarkan anak-anak membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah sejak usia dini sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Nina Shimaguchi dari Japan American Society of Dallas-Fort Worth menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang.
“Ini semacam kebiasaan atau sesuatu yang alami bagi kami,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa siswa di Jepang terbiasa membersihkan koridor dan toilet sekolah sendiri karena sebagian besar sekolah tidak memiliki petugas kebersihan khusus.
“Dalam sistem pendidikan Jepang, kami harus menjaga sendiri lorong dan kamar mandi sekolah,” katanya.
Namun, di tengah banjir pujian dari dunia internasional, muncul pula kritik dari sebagian warganet. Sejumlah komentar menilai aksi tersebut lebih sering dipertontonkan di luar negeri dibandingkan diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari di Jepang.
Kritik lain menyebut perhatian media terhadap aksi bersih-bersih itu terkesan berlebihan dan menjadikannya sebagai simbol nasional yang terus diulang setiap turnamen besar.
Meski demikian, mayoritas reaksi publik tetap positif. Banyak penggemar sepak bola menganggap tindakan suporter Jepang sebagai contoh sportivitas dan kepedulian terhadap fasilitas umum yang layak ditiru oleh pendukung tim lain. Bahkan FIFA pernah menyebut kebiasaan tersebut sebagai bentuk “rasa hormat” terhadap lingkungan dan sesama penonton.
Di tengah perdebatan yang muncul, satu hal yang tidak berubah adalah citra positif yang berhasil ditunjukkan suporter Jepang. Bagi banyak orang, aksi sederhana memungut sampah setelah pertandingan telah menjadi simbol disiplin, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap ruang publik.
