Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia di tengah bonus demografi. Isu polarisasi di ruang digital, kesehatan mental, hingga melemahnya ketangguhan ideologi dinilai menjadi perhatian yang harus segera ditangani.
Hal itu disampaikan Erick saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7).
Dalam rapat tersebut, Erick mengatakan polarisasi di ruang digital telah memicu penyebaran disinformasi dan berpotensi menyeret anak muda ke dalam konflik horizontal maupun tindakan yang mengganggu kehidupan berbangsa.
“Isu tentang ruang digital, kita bisa lihat yang menjadi polemik tersendiri. Alhamdulillah pemerintah sudah masuk ke sendi-sendi bahwa usia 16 tahun sudah mulai dikurangi penggunaan digital di sekolah. Saya rasa ini keputusan kontroversial tapi tepat. Kalau negara-negara lain seperti Australia saja yang terbuka sudah mengoreksi penggunaan digitalnya di kalangan pemuda, apalagi kita yang kualitas pendidikannya masih tertinggal,” ujar Erick.
Selain itu, Erick juga menyoroti persoalan kesehatan mental yang dinilainya semakin mengkhawatirkan di kalangan anak muda.
“Bayangkan 84-85 persen klien klinik psikologi di kalangan perkotaan adalah pemuda. Artinya kalau psikolog ketemu 10 pasien, delapan di antaranya pemuda. Ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan,” katanya.
Menurut Erick, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah melemahnya ketangguhan ideologi generasi muda. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi memicu meningkatnya aksi kekerasan dan menurunnya daya juang pemuda.
“Isu-isu ini sudah menjadi ancaman, berikutnya adalah lemahnya ketangguhan ideologi. Kita sudah tidak ada ideologi sekarang. Ini terus menggerus, bahkan kalau Bapak Ibu lihat di daerah, yang namanya melakukan aksi kekerasan atau kekejaman di jalanan malah menjadi tren yang meningkat supaya diakui di komunitasnya. Isu kepemudaan ini yang berimplikasi terhadap merosotnya daya juang,” jelasnya.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyiapkan program Indonesia Youth Summit dan Wirasena Youth Camp sebagai wadah kolaborasi antara pemuda dan para pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan di bidang kepemudaan.
Erick menjelaskan, pelaksanaan Indonesia Youth Summit akan melibatkan sedikitnya tujuh kementerian yang memiliki keterkaitan dengan isu kepemudaan guna memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Ada tujuh kementerian yang terkait dengan kepemudaan. Ini yang menjadi concern bagaimana konsolidasi akan dilakukan antar kementerian dan lembaga. Kita sudah akan mengundang kementerian terkait untuk hadir di Indonesia Youth Summit, untuk berkonsolidasi, seperti yang sudah kami lakukan sebelumnya dalam Indonesia Sport Summit sehingga lahir aturan-aturan baru dengan kementerian lain,” ujar Erick.
Reportase : Dimas A. Putra
Foto : Istimewa
